JAKARTA SEDANG menyaksikan benturan tajam antara logika neraca perusahaan dengan arsitektur besar ekonomi domestik. Rencana PT Agrinas Pangan Nusantara untuk memboyong 105.000 mobil niaga dari India telah memicu alarm di Gedung Parlemen. Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah, pada Rabu, 25 Februari, tidak sekadar melayangkan kritik; ia menuntut pembatalan total. Bagi Senayan, langkah korporasi pelat merah ini bukan hanya soal pengadaan logistik, melainkan sebuah “sabotase” terhadap visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan penguatan ekonomi desa dan manufaktur lokal sebagai harga mati.
Inti dari perdebatan ini adalah “nilai tambah”. Sementara Agrinas mungkin tergiur dengan harga murah dari sub-benua India, Banggar melihat potensi kerugian makro yang mengerikan. Mengutip riset Celios, keputusan untuk tidak membelanjakan dana APBN di dalam negeri berpotensi menggerus PDB hingga Rp39,29 triliun. Ini adalah paradoks ekonomi: di satu sisi pemerintah ingin menggerakkan ekonomi desa lewat program Makan Bergizi Gratis, namun di sisi lain, urat nadi logistiknya justru memperkuat industri otomotif negara lain.
Audit Strategis: Dampak Makro Rencana Impor Kendaraan Niaga
Analisis ini membedah risiko sistemik terhadap PDB, sektor manufaktur, dan penyerapan tenaga kerja jika pengadaan dialihkan ke pasar luar negeri.
Ilusi Harga Murah vs Biaya Jangka Panjang
Said Abdullah mengingatkan bahwa efisiensi bukan sekadar soal harga beli di awal. Memasukkan 105.000 unit kendaraan India tanpa jaringan purna jual, bengkel, dan suku cadang yang mapan di Indonesia adalah risiko operasional yang fatal. Dalam skala sebesar ini—hampir setara dengan total produksi mobil niaga nasional setahun—pengadaan ini seharusnya menjadi stimulus raksasa bagi pabrikan domestik untuk menyerap tenaga kerja, terutama satu juta sarjana yang kini masih menganggur.
Vonis Strategis:
Agrinas sedang bermain api dengan nasionalisme ekonomi Indonesia. Dana APBN yang bersifat multiyears memiliki mandat moral untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Jika BUMN terus berperilaku seperti importir pedagang daripada penggerak industri, maka cita-cita hilirisasi dan swasembada pangan hanya akan menjadi retorika tanpa tulang punggung. Langkah pembatalan yang diminta Banggar bukan sekadar proteksionisme buta, melainkan upaya menjaga agar “uang rakyat” tidak hanya sekadar numpang lewat untuk memperkaya manufaktur asing.
Verified Source: DPR RI
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Optimisme Dingin di Tengah “Kekacauan” Global



