MATARAM SEDANG menguji sebuah tesis baru dalam perang melawan kemiskinan: bahwa kedekatan geografis dengan pusat kekayaan tidak otomatis melahirkan kemakmuran tanpa adanya “jembatan” kebijakan yang presisi. Pada Rabu, 25 Februari, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal melakukan blusukan ke Desa Sigar Penjalin, Lombok Utara. Kunjungan ini mengungkap kontras yang tajam—dan memprihatinkan—antara deretan hotel premium serta lapangan golf internasional di Pantai Sire dengan realitas warga yang masih terperangkap dalam kemiskinan ekstrem di halaman belakang mereka sendiri.
Melalui inisiatif Desa Berdaya, Iqbal mencoba merombak pendekatan bantuan sosial konvensional menjadi sebuah mekanisme intervensi yang “terorkestrasi”. Dengan stimulus Rp500 juta per desa, program ini tidak lagi mengandalkan instruksi top-down dari ibu kota provinsi, melainkan menuntut identitas solusi bottom-up. Inti dari ambisi ini adalah transformasi ekonomi rumah tangga: memastikan setiap kepala keluarga beralih dari sekadar penerima bantuan menjadi entitas ekonomi yang memiliki pendapatan tetap dalam waktu dua belas bulan.
Audit Strategis: Arsitektur Program Desa Berdaya 2026
Analisis ini membedah model kolaborasi lintas sektor dan fokus intervensi pada desa dengan kategori miskin ekstrem di NTB.
Mengakhiri Ego Sektoral di Tingkat Tapak
Karakter paling krusial dari Desa Berdaya adalah sifatnya yang “orkestratif”. Gubernur Iqbal secara tegas mengingatkan para pendamping desa bahwa mereka tidak didesain untuk menjadi pahlawan kesiangan yang bekerja sendirian. Keberhasilan program ini bergantung pada kemampuan para pendamping untuk “menjahit” berbagai program yang sudah ada—seperti PKH dan Posyandu—menjadi satu narasi pemberdayaan yang utuh. Tanpa sinkronisasi ini, bantuan Rp500 juta per desa hanya akan menjadi komoditas politik jangka pendek tanpa dampak struktural.
Pemanfaatan Potensi “Halaman Depan”
Desa Sigar Penjalin adalah contoh klasik di mana potensi ekonomi (pariwisata premium) gagal terdistribusi secara inklusif ke warga sekitar. Dengan mengidentifikasi tingginya jumlah anak muda pengangguran, Desa Berdaya di wilayah ini harus mampu mengubah status mereka dari penonton menjadi penyedia jasa atau tenaga kerja terampil bagi industri hotel dan lapangan golf di Pantai Sire. Intervensi pendidikan dan sertifikasi akan menjadi kunci agar mereka bisa menembus tembok eksklusivitas ekonomi di wilayahnya sendiri.
Vonis Strategis:
Iqbal sedang melakukan perjudian politik-ekonomi yang menarik dengan target “satu tahun kemandirian”. Jika dalam 12 bulan ke depan warga Sigar Penjalin belum memiliki sumber pendapatan tetap, maka Desa Berdaya akan dicatat sebagai kegagalan birokrasi lainnya. Namun, jika model kolaborasi bottom-up ini berhasil, NTB akan memiliki blueprint pengentasan kemiskinan ekstrem yang bisa diduplikasi secara nasional. Kuncinya bukan pada besaran stimulusnya, tapi pada ketajaman identitas pengungkit ekonominya.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Rinjani Bukan Bukit Teletubbies: Gubernur Iqbal dan Strategi Menyingkirkan Pendaki “Low Budget”



