JAKARTA – Masyarakat Indonesia bersiap menyambut fenomena astronomi langka yang akan menghiasi langit bulan suci Ramadan. Pada Selasa, 3 Maret 2026, Gerhana Bulan Total (GBT) atau yang populer dijuluki Blood Moon akan mencapai puncaknya, bertepatan dengan momen berbuka puasa di wilayah Indonesia bagian barat.
Plt. Direktur Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, A. Fachri Radjab, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi akibat konfigurasi presisi antara matahari, bumi, dan bulan. “Cahaya matahari terhalangi bumi, namun atmosfer kita membiaskan cahaya merah melalui hamburan Rayleigh, membuat bulan tampak berwarna merah pekat,” jelasnya dalam Podcast BMKG, Sabtu (28/2).
Analisis Investigatif: Sains di Balik Mitos
Meskipun secara visual dramatis, BMKG menegaskan bahwa GBT adalah murni peristiwa mekanika langit. Dampak fisik yang nyata hanyalah kenaikan pasang surut air laut akibat gaya gravitasi bulan yang mencapai puncaknya. Fenomena ini aman diamati tanpa alat bantu kacamata khusus, berbeda dengan gerhana matahari yang berisiko merusak retina.
Secara sosiokultural, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengabaikan narasi takhayul. Alih-alih mempercayai mitos “bulan dimakan raksasa” atau larangan bagi ibu hamil, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan salat gerhana (Kusuf) sebagai bentuk refleksi spiritual, mengingat kejadian ini bertepatan dengan bulan Ramadan.
BACA JUGA:
Rinjani Bukan Bukit Teletubbies: Gubernur Iqbal dan Strategi Menyingkirkan Pendaki “Low Budget”Verified Source: InfoPublik.id




