PRESIDEN Prabowo Subianto ini memang tipe orang yang optimisnya nggak ketulungan. Di saat dunia lagi pening melihat Iran dan Amerika Serikat (plus Israel) saling melotot sambil pegang pelatuk, Pak Prabowo dengan gagah berani menawarkan diri: “Gimana kalau saya yang jadi wasitnya?”
Sebuah niat yang sangat mulia, selevel pahlawan di film Avengers. Masalahnya, pihak yang mau didamaikan—dalam hal ini Iran—sepertinya punya agenda lain yang bikin tawaran itu berujung read doang.
Ditolak Sebelum Jadian
Dubes Iran untuk Indonesia, Muhammad Boroujerdi, baru saja mengeluarkan kalimat yang bikin semangat diplomasi kita agak “kempes”. Intinya: “Nggak ada nego-nego sama Amerika.” Titik. Nggak pakai koma, nggak pakai tapi.
Pernyataan ini semacam tamparan halus bin estetik buat ambisi RI jadi mediator global. Iran rupanya lagi nggak butuh makelar. Mereka merasa kalau sudah urusan sama Amerika dan Israel, pilihannya cuma dua: bertahan atau lawan. Nggak ada ruang buat duduk bareng sambil minum teh botol sosro apalagi tanda tangan dokumen damai.
Sowan ke JK: Strategi atau Sekadar Curhat?
Yang bikin plot drakor geopolitik ini makin seru adalah ketika Dubes Boroujerdi malah ketahuan menemui Jusuf Kalla (JK). Ya, Pak JK, sang spesialis juru damai “pensiunan” yang jam terbangnya sudah sampai ke Helsinki dan Afghanistan.
Publik pun jadi bertanya-tanya: Lho, kenapa nggak ke Istana dulu? Kenapa malah ke kediaman JK? Apakah ini tanda kalau Iran lebih percaya sama “pengalaman senior” daripada “semangat baru”? Atau jangan-jangan Pak Dubes cuma mau tanya tips cara bikin perdamaian yang awet tanpa harus ditekuk sama kepentingan Washington?
Mediator yang “Tersesat” di Jalan
Kondisinya makin pelik kalau kita ingat kritik Pak JK sebelumnya: Indonesia sudah kadung punya “ikatan batin” ekonomi yang terlalu kuat sama Amerika lewat perjanjian dagang resiprokal.
Jadi, wajar saja kalau Iran agak skeptis. Mereka mungkin mikir, “Lha, kamu mau jadi penengah, tapi dompet kamu masih disetir sama musuh saya?” Walhasil, niat Pak Prabowo buat jadi Peacemaker dunia saat ini statusnya masih: Menunggu Persetujuan (yang sepertinya bakal lama banget).
VONIS AMBARA
Akhirnya, diplomasi tingkat tinggi itu nggak jauh beda sama urusan asmara di SMA. Mau segagah apa pun kamu, kalau pihak sebelah sudah bilang “Kita temenan aja” (atau dalam hal ini: “Kita musuhan aja”), ya wasalam. Pak Prabowo mungkin harus cari hobi lain selain jadi mediator konflik Iran, misalnya… fokus ngurusin harga beras dulu?
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
BLUEPRINT ‘GAZA BARU’: Trump Pamer Properti Mewah di Puing-Puing KonflikSEKALIAN BACA YANG INI JUGA:
Dilema Sang Juru Damai di Bawah Bayang-bayang Paman Sam



