DIPLOMASI INDONESIA sedang berada di persimpangan yang amat licin. Duta Besar Iran, Mohammad Boroujerdi, tidak sekadar meminta simpati; ia menuntut ketegasan dari blok D-8 untuk mengutuk agresi AS-Israel. Permintaan ini bukan sekadar urusan retorika, melainkan ujian bagi kredibilitas Presiden Prabowo Subianto yang saat ini memegang tongkat keketuaan D-8.
Mandat Sejarah vs Realita Meja Makan
Boroujerdi menyebutkan “sisi yang benar dari sejarah.” Namun, sejarah bagi Jakarta hari ini sangat ditentukan oleh apa yang terjadi di bawah meja perdagangan. Dengan gugurnya Ayatollah Ali Khamenei dalam agresi kedua ini, Iran menuntut D-8 tidak hanya menjadi organisasi ekonomi, tetapi juga benteng politik.
Masalahnya, Indonesia baru saja mengikatkan diri dalam perjanjian resiprokal dengan AS—sebuah komitmen yang oleh banyak pihak dianggap sebagai “borgol emas”. Jika Jakarta memimpin D-8 untuk mengutuk keras AS, risikonya adalah turbulensi ekonomi domestik. Jika diam, maka tema KTT April mendatang, “Menavigasi Pergeseran Global,” hanya akan berakhir menjadi kumpulan jargon kosong di atas kertas brosur.
Veto Diam di KTT Jakarta
Kehadiran Azerbaijan sebagai anggota baru (Desember 2024) juga menambah kompleksitas. Dengan spektrum kepentingan anggota yang beragam—mulai dari Turki yang vokal hingga Nigeria yang pragmatis—Indonesia harus mampu meramu pernyataan bersama yang cukup tajam untuk memuaskan Teheran, namun cukup halus agar tidak memutus jalur investasi dari Washington.
VONIS INTELEKTUAL
Permintaan Dubes Boroujerdi adalah jebakan maut bagi diplomasi “Bebas Aktif” Indonesia. Jika Prabowo gagal memfasilitasi kutukan keras dalam KTT Jakarta, Indonesia tidak hanya kehilangan muka di hadapan Teheran, tetapi juga mengonfirmasi kecurigaan bahwa keketuaannya hanyalah perpanjangan tangan dari kepentingan Barat. KTT April bukan lagi sekadar acara makan malam kenegaraan; itu adalah panggung di mana Indonesia harus membuktikan apakah ia seorang pemimpin blok atau sekadar tuan rumah yang patuh.
Verified Source: InfoPublik.id
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Dilema Sang Juru Damai di Bawah Bayang-bayang Paman SamFURTHER READING:
The $38 Billion Handshake: Is This Peace or a Subscription Fee?



