ADA DUA HAL yang pasti di dunia ini: kematian dan pajak. Dan untuk para pejuang slip gaji di tahun 2026, keduanya seolah datang bersamaan dalam wujud potongan THR.
Kabar ini bukan sekadar gosip di grup WhatsApp keluarga yang hobi menyebar hoaks kesehatan. Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP, Ibu Inge Diana Rismawanti, sudah mengetuk palu lewat Kompas.com pada Senin (2/3). Vonisnya jelas: THR dikategorikan sebagai penghasilan tambahan yang sifatnya tidak teratur.
Dalam bahasa manusia biasa: “Karena THR itu bonus setahun sekali, maka negara merasa perlu ikut mencicipi lebih dalam.”
Logika Pajak: “Mumpung Lagi Banyak”
Kalau Anda mengira pajak THR itu cuma recehan, mungkin Anda perlu membasuh muka dengan air es. Dengan skema TER (Tarif Efektif Rata-rata) yang sudah berlaku, perhitungan PPh 21 pada bulan penerimaan THR akan melonjak drastis. Kenapa? Karena penghasilan bruto Anda di bulan itu (Gaji + THR) otomatis melompat ke bracket pajak yang lebih tinggi.
Ibaratnya, di bulan biasa Anda cuma makan bakso di pinggir jalan dengan pajak minimalis. Tapi di bulan Lebaran, karena ada THR, negara melihat Anda seolah-olah sedang pesta fine dining di hotel bintang lima. Maka, tagihannya pun menyesuaikan “kemewahan” sesaat itu.
Audit Nasib: Dompet vs Negara
Bagi sebagian orang, THR adalah harapan untuk melunasi utang pinjol atau sekadar pamer baju baru di depan saudara yang julid. Namun, dengan adanya potongan ini, impian untuk membeli kue nastar premium mungkin harus turun kasta ke nastar curah.
Berikut adalah audit cepat mengenai nasib uang kaget Anda:
Catatan Akhir: Ikhlas Adalah Kunci
DJP menegaskan ini bukan pajak baru, cuma “cara hitung” yang diperjelas. Tapi ya namanya juga rakyat, mau cara hitungnya pakai rumus fisika kuantum atau pakai sempoa, kalau ujung-ujungnya nominal yang masuk ke rekening berkurang, rasanya tetap seperti diputusin pas lagi sayang-sayangnya.
Satu-satunya hiburan kita adalah: setidaknya kita berkontribusi pada pembangunan jalan tol yang mungkin akan kita lewati saat mudik nanti. Walaupun pas lewat jalan tol itu, kita mungkin sudah nggak punya uang buat bayar tolnya karena THR habis dipotong pajak.
Sungguh sebuah siklus kehidupan yang sangat aesthetic.
BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT:
Korupsi Bea Cukai: KPK Tahan Pejabat Intelijen, Amankan Rp5,19 Miliar di Safe House



