LOMBOK TENGAH — Di kaki perbukitan Batukliang Utara, sebuah narasi tentang pertahanan hidup sedang disusun. Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, melakukan kunjungan krusial ke Desa Lantan pada Kamis, 5 Maret 2026. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni birokrasi, melainkan sebuah audit lapangan terhadap dua ancaman laten yang menghantui masa depan provinsi: degradasi gizi manusia dan kerapuhan ekosistem hutan lindung.
Lantan, yang secara geografis merupakan “menara air” bagi Pulau Lombok, kini menjadi titik nol bagi kebijakan integrasi kesehatan masyarakat dan pelestarian lingkungan.
Presisi Medis untuk Empat Nyawa
Gubernur Iqbal secara spesifik menyoroti empat anak di Dusun Lantan Duren yang terperangkap dalam data stunting. Alih-alih hanya memberikan bantuan pangan tambahan yang bersifat umum, mantan diplomat ini mendorong pendekatan yang lebih saintifik. Beliau menginstruksikan pelibatan dokter spesialis anak untuk mendiagnosis akar masalah secara individual.
Langkah ini mencerminkan pergeseran paradigma penanganan stunting di NTB; dari sekadar pemenuhan kalori menuju intervensi medis presisi. Tujuannya jelas: mengeluarkan keempat anak tersebut dari daftar merah stunting melalui solusi yang berbasis data klinis, bukan sekadar statistik administratif.
Lantan: Benteng Ekologis yang Terluka
Namun, kesehatan manusia di Lantan tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hutannya. Gubernur menegaskan bahwa Desa Lantan adalah “jantung” bagi wilayah bawah—mulai dari Praya hingga pesisir—yang menggantungkan hidup pada daerah tangkapan air di wilayah ini. Ironisnya, di tengah peran vitalnya, fasilitas dasar seperti Posyandu Lantan Duren justru dilaporkan mangkrak dengan atap roboh akibat cuaca ekstrem dan keterbatasan anggaran desa.
Pemerintah Provinsi kini tengah menggodok skema pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan. Logikanya sederhana namun menantang: masyarakat hanya akan menjaga hutan jika kesejahteraan mereka terjamin tanpa harus merusak tegakan pohon.
Catatan Akhir: Menanam Masa Depan
Aksi penanaman pohon di Dusun Pemasir sebagai bagian dari gerakan pelestarian lingkungan menyambut Ramadan adalah simbolisme yang kuat. Namun, keberhasilan Gubernur Iqbal tidak akan dinilai dari berapa banyak pohon yang ditanam minggu ini, melainkan dari apakah fasilitas kesehatan di Lantan bisa kembali tegak dan apakah empat anak tersebut bisa tumbuh sehat tanpa bayang-bayang stunting. Di Lantan, pemerintah sedang menanam komitmen; publik menunggu panen hasilnya.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Simalakama IPR: Fiskal vs Ekologi



