AMBARA

Intelijen Kok “Jorok”? Aroma Amis False Flag di Balik Teror Air Keras KontraS

BAYANGKAN SEORANG KOKI bintang lima memasak nasi goreng, tapi lupa memasukkan nasi dan malah meninggalkan KTP-nya di dalam wajan. Kurang lebih begitulah keganjilan yang ditangkap pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.

​Empat prajurit BAIS TNI—dari level Kapten hingga Serda—kini mendekam di sel Super Maximum Security Guntur. Namun, pertanyaannya bukan lagi “siapa pelakunya”, melainkan “kenapa mereka sebodoh itu?” Apakah ini murni kecerobohan, atau kita sedang menonton sebuah pertunjukan teater berdarah yang naskahnya sudah disusun rapi?

Kategori AuditAnalisis InvestigatifStatus Performa
Profil Eksekutor4 Personel BAIS (Kapten NDP, dkk)IDENTIFIED
Modus OperandiTanpa Masker, Tanpa Sarung Tangan, BB DitinggalAMATEURISH/JOROK
Dugaan KriminologiFalse Flag & Rouge Operation (Sempalan)INVESTIGATIVE FOCUS

Sumber: Data Puspom TNI & Analisis Psikologi Forensik 2026.

Intelijen yang Lupa Cara Jadi Intel

​Dalam dunia spionase, keberhasilan sebuah operasi diukur dari seberapa tidak terlihatnya sang aktor. Tapi dalam kasus Andrie Yunus, para pelaku seolah sedang melakukan live streaming kejahatan. Tidak pakai masker, tangan telanjang saat memegang air keras, dan barang bukti dilempar begitu saja di TKP.

​”Betapa joroknya operasi mereka,” cetus Reza Indragiri. Baginya, mustahil personel BAIS—yang dilatih untuk menghilang seperti hantu—tiba-tiba jadi seceroboh maling jemuran. Muncul kecurigaan bahwa ini adalah False Flag Operation. Artinya, para prajurit ini mungkin sengaja “diumpankan” agar ditangkap, guna menyudutkan institusi atau faksi tertentu di tubuh militer.

Operasi Merah: Perlawanan di Luar Garis Komando?

​Reza juga melempar istilah Rouge Operation atau Operasi Merah. Ini adalah kondisi di mana ada kelompok sempalan dalam organisasi yang bergerak liar tanpa sepengetahuan pimpinan tertinggi. Jika benar, maka ada “tangan-tangan gelap” di level perwira tinggi yang mungkin sedang memainkan bidak catur di luar kendali Panglima.

​Ironisnya, TNI justru tampak lebih “sat-set” dalam menangani kasus ini dibanding polisi saat menangani kasus Novel Baswedan dulu. Hanya dalam hitungan hari, pelaku sudah masuk sel Maximum Security. Apakah ini bukti transparansi, atau justru cara cepat untuk menutup mulut para pelaku lapangan agar tidak bernyanyi lebih keras tentang siapa sang sutradara?

Menunggu Nyanyian di Sel Guntur

​Danpuspom TNI, Mayjen Yusri Nuryanto, berjanji akan membidik aktor intelektualnya. Publik kini tinggal menunggu: apakah Puspom berani menyeret sang pemberi instruksi, atau kasus ini hanya akan berhenti pada empat “robot lapangan” yang nasibnya dikorbankan demi skenario besar yang lebih amis.

​Satu hal yang pasti: jika intelijen sudah berani main “jorok”, berarti ada sesuatu yang sangat kotor yang sedang coba ditutupi—atau justru sedang sengaja dipamerkan.

Verified Source: TRIBUN JAKARTA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *