JAKARTA – Pemerintah Kota Banjarbaru melakukan langkah strategis untuk memutus rantai masalah sampah yang selama ini terjebak dalam pola klasik “kumpul-angkut-buang”. Dalam studi tiru di Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, Sabtu (4/4), rombongan yang dipimpin Wali Kota Erna Lisa Halaby membedah model pengelolaan limbah terintegrasi—dari hulu rumah tangga hingga hilir berteknologi Refuse Derived Fuel (RDF).
Kunjungan ini menyoroti anomali manajemen sampah perkotaan di Indonesia: teknologi canggih seperti RDF Plant yang mampu mengolah 2.500 ton sampah per hari tidak akan optimal tanpa revolusi perilaku di tingkat RW. Banjarbaru kini bersiap mengadopsi sistem pemilahan berbasis komunitas (ProKlim) dan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk menekan volume sampah organik sejak dari sumbernya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banjarbaru, Shanty Eka Septiani, mengungkapkan strategi konkret “10 Rumah per Bulan” sebagai pilot project pemilahan sampah mandiri. Target ini merupakan upaya realistis untuk mengubah pola pikir masyarakat di tengah dominasi sistem angkut-buang yang telah mengakar puluhan tahun.
Langkah Banjarbaru mencerminkan urgensi mitigasi perubahan iklim berbasis komunitas. Dengan mempelajari sistem drop point bambu untuk fermentasi dan pusat edukasi Recycle Business Unit (RBU), Pemkot Banjarbaru tidak hanya membawa pulang catatan teknis, tetapi juga kerangka kerja ekonomi sirkular yang diharapkan mampu mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) secara signifikan.
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Simalakama IPR: Fiskal vs EkologiVerified Source: InfoPublik.id




