SAAT KABUT tipis turun perlahan menyelimuti lereng Gunung Dempo, Kota Pagar Alam bertransformasi menjadi ruang pelarian yang menawarkan lebih dari sekadar pemandangan. Berjarak sekitar 290–300 kilometer dari hiruk-pikuk Palembang, kota ini hadir sebagai destinasi wisata edukasi dan pencerahan budaya yang menghubungkan manusia modern dengan akar sejarah ribuan tahun lalu.
Pagar Alam bukan sekadar destinasi foto; ia adalah “kelas hidup”. Melalui Desa Wisata Gunung Dempo, pengunjung diajak menyelami relasi manusia dengan alam—mulai dari proses memetik teh hingga memahami sistem pertanian tradisional. “Wisata itu bukan hanya soal foto, tapi soal pengetahuan,” ujar Andi (34), seorang pemandu lokal yang menjadi saksi bagaimana alam Pagar Alam mampu mengubah perspektif para pelancong.
Jejak Purba di Tanah Pasemah
Daya tarik Pagar Alam meluas melampaui hamparan hijau PTPN VII. Kawasan ini merupakan pusat tradisi megalitik di Indonesia. Di situs seperti Tegur Wangi dan Tebat Benawa, tersebar arca batu, dolmen, dan kubur batu yang diperkirakan berusia ribuan tahun.
Berdasarkan data Balai Arkeologi Sumatra Selatan, tinggalan arca di Tanah Pasemah memiliki keunikan artistik yang tidak ditemukan di daerah lain. Arca-arca ini bukan sekadar benda mati; mereka adalah representasi struktur sosial dan kemampuan seni tinggi masyarakat prasejarah Indonesia, memberikan kesadaran bahwa identitas bangsa ini telah berakar kuat sejak milenia lalu.
Ekonomi Kerakyatan dan Lonjakan Pasca-Lebaran
Pariwisata Pagar Alam tumbuh dari bawah. Tanpa ketergantungan pada investor besar, ekonomi lokal digerakkan oleh homestay keluarga dan UMKM seperti kopi Robusta Pagar Alam yang kini menjadi ikon kuliner Sumsel. “Sekarang kami tidak hanya menjual hasil kebun, tapi juga pengalaman,” kata Sapli (42), pelaku UMKM kopi setempat.
Resiliensi ekonomi ini teruji saat lonjakan wisatawan memadati kawasan Gunung Dempo pasca Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Pada Senin, 23 Maret 2026, arus kendaraan dari Tangga 2001 hingga Tugu Rimau terpantau padat merayap. Situasi ini direspons sigap oleh jajaran Polres Pagaralam melalui Operasi Ketupat Musi 2026 di bawah komando Kapolres AKBP Januar Kencana Setia Persada, guna memastikan kenyamanan para pengunjung.
Di antara kabut Dempo dan aroma kopi Robusta, Pagar Alam menawarkan jeda bagi jiwa yang lelah—sebuah bukti bahwa perjalanan menuju kemajuan tidak harus meninggalkan akar tradisi dan kelestarian alam.
Verified Source: INDONESIA.GO.ID
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Marvelous Wastra NTB: Bukan Sekadar Peragaan Busana



