MATARAM — Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah berada di persimpangan sejarah sosial yang krusial. Laporan terbaru BPS per Mei 2026 mengungkapkan dua realitas yang saling berkelindan: kesenjangan peran antara laki-laki dan perempuan kian menipis, namun di saat yang sama, NTB mulai “menua” lebih cepat dari yang diperkirakan.
Indeks Ketimpangan Gender (IKG) NTB tahun 2025 tercatat membaik ke angka 0,515. Keberhasilan menekan angka pernikahan usia anak secara drastis dari 14,96% menjadi 11,31% adalah kemenangan besar bagi kebijakan pemberdayaan perempuan di wilayah ini. Namun, di balik kabar baik tersebut, sebuah lonceng peringatan demografi mulai berbunyi: NTB hampir memasuki fase ageing population dengan proporsi lansia yang kini menyentuh 9,72%.
Berikut adalah Audit Strategis GetNews terhadap transformasi sosial NTB:
Catatan Investigatif: Paradoks Keberhasilan
Turunnya Angka Kelahiran Total (TFR) menjadi 2,38 dan naiknya usia kawin pertama perempuan adalah bukti bahwa masyarakat NTB kian terdidik dan sadar akan kualitas hidup. Namun, keberhasilan ini membawa “efek samping” ekonomi. Dengan rasio ketergantungan sebesar 48,77, beban penduduk usia produktif untuk menopang kelompok lansia kian berat. NTB kini sedang berpacu dengan waktu: apakah kita bisa menjadi sejahtera sebelum menjadi tua?
Mobilitas penduduk yang positif ke sebagian besar kabupaten/kota menandakan adanya gairah ekonomi, kecuali Kota Mataram yang mencatatkan migrasi neto negatif—sebuah sinyal adanya desentralisasi aktivitas atau mungkin jenuhnya daya tampung ibu kota.
Kesimpulan Strategis
Transformasi sosial NTB adalah pedang bermata dua. Penurunan ketimpangan gender adalah fondasi kemajuan yang luar biasa, namun transisi menuju ageing population menuntut desain kebijakan yang jauh lebih adaptif. Pemerintah daerah tidak bisa lagi hanya fokus pada pembangunan infrastruktur fisik, tetapi harus mulai memperkuat jaring pengaman sosial dan layanan kesehatan bagi lansia agar bonus demografi yang tersisa tidak menguap begitu saja menjadi beban sejarah.




