MATARAM — Nusa Tenggara Barat (NTB) baru saja mencatatkan anomali pasar yang melegakan sekaligus menantang. Di tengah tren inflasi nasional yang mencapai 2,42% (y-on-y), Bumi Gora justru mencatatkan deflasi bulanan (m-to-m) sebesar -0,11% pada April 2026. Penurunan harga pada kelompok pangan menjadi “rem darurat” yang menahan laju biaya hidup bulan ini.
Deflasi yang terjadi dipicu oleh melandainya harga komoditas “pedas” seperti cabai rawit, diikuti daging ayam ras dan kol putih. Masuknya masa panen raya memastikan pasokan di pasar lokal melimpah. Namun, kabar baik dari dapur warga ini harus berbenturan dengan lonjakan biaya di landasan pacu. Sektor transportasi, khususnya angkutan udara, menjadi penyumbang inflasi tertinggi (0,14%) akibat tingginya mobilitas menjelang periode libur panjang dan rangkaian event internasional di Lombok.
Berikut adalah Audit Strategis GetNews berdasarkan rilis resmi BPS NTB per 4 Mei 2026:
Catatan Investigatif: Waspada Tekanan Tahunan
Meski secara bulanan kita melihat penurunan harga, angka tahunan (y-on-y) NTB yang bertengger di 3,27% adalah sinyal kuning. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional (2,42%). Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi kontributor “kerak” inflasi yang sulit dikikis dalam setahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat bawah masih terhimpit oleh harga kebutuhan pokok yang belum sepenuhnya kembali ke titik normal.
Perbandingan Wilayah
Dari tiga wilayah cakupan IHK di NTB:
- Kota Mataram mencatatkan deflasi bulanan -0,11%.
- Kabupaten Sumbawa mencatatkan deflasi paling dalam sebesar -0,12%.
- Kota Bima mengalami deflasi sebesar -0,08%.
Ketiga wilayah ini menunjukkan pola yamg seragam: keberhasilan menjaga stok beras dan cabai di pasar lokal terbukti mampu menjadi penawar bagi lonjakan biaya jasa dan transportasi udara yang kian mahal.




