SELAMAT DATANG di era di mana merayakan gol harus ditunda selama lima menit demi menunggu seorang pria di dalam ruangan gelap menggambar garis yang lebih presisi daripada alis selebgram. Korban terbarunya? Si jenius plontos dari Manchester, Pep Guardiola.
Setelah serangkaian keputusan wasit yang bikin geleng-geleng kepala, Pep akhirnya meledak. Secara terang-terangan, ia menyatakan sudah tidak punya sisa-sisa kepercayaan lagi pada teknologi yang namanya Video Assistant Referee alias VAR ini.
Cinta yang Bertepuk Sebelah Garis
Mari kita jujur, VAR itu ibarat mantan yang datang kembali dengan janji “ingin memperbaiki segalanya”, tapi malah bikin hidup makin rumit. Niatnya sih mau bikin sepak bola lebih adil, tapi praktiknya malah bikin drama yang lebih panjang dari episode Tukang Bubur Naik Haji.
Pep yang biasanya tampil elegan dengan turtle neck-nya, kini harus pasrah melihat timnya dirugikan oleh keputusan kontroversial. Bayangkan, Anda sudah mendesain taktik sedemikian rupa, mengatur aliran bola seakurat jam tangan Swiss, eh, semuanya buyar cuma gara-gara jempol kaki pemain Anda dianggap offside oleh kamera yang resolusinya kadang lebih buruk dari CCTV minimarket.
Penutup: Mending Balik ke Zaman Batu?
Mungkin Pep rindu zaman dulu, di mana kalau ada kesalahan wasit, kita cukup mengumpat sebentar, lalu lanjut main. Sekarang? Kita dipaksa menunggu kepastian hukum yang seringkali malah tidak pasti.
Kalau Pep saja sudah tidak percaya, apalagi kita yang nonton lewat layar kaca sambil makan kacang rebus? Pada akhirnya, VAR bukan lagi asisten wasit, melainkan asisten pembuat sakit kepala massal.




