LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 22

Tan Malaka, insert: Emha Firmansyah (GETNEWS./Literasi Anomali/istimewa)

Oleh: M Hero Firmansyah

Beratnya Komoditas Nalar

​Rumah panggung tua di batas desa itu terasa kian mencekam dan pengap. Rekaman suara parau Pak Harjo masih bergema di dalam kepala mereka bertiga laksana kutukan sejarah yang menolak padam. Rian duduk bersandar pada lantai papan yang berdebu, mendekap unit diska lepas hitam di genggaman tangannya. Secara nyata, benda kecil itu terasa jauh lebih berat ketimbang akumulasi seluruh volume konsesi tambang nikel di tapak Sulawesi.

​“Kita harus melempar dokumen ini ke ruang publik,” desak Arya, suaranya bergetar didera ketegangan taktis. “Manuskrip bab terakhir Madilog ini memiliki daya hancur untuk merontokkan seluruh legitimasi mereka. Massa harus dibangunkan secara paksa; bahkan figur Tan Malaka sendiri didera skeptisisme akut terhadap watak setiap proses pergerakan yang dipimpin oleh manusia-manusia yang haus akan struktur kekuasaan.”

​Pak Min seketika memberikan gelengan keras, rahangnya mengencang. “Sebuah perhitungan yang konyol! Jika kita merilis otopsi sejarah ini sekarang, citra kepahlawanan Tan Malaka akan hancur lebur di tingkat akar rumput. Massa yang selama ini memelihara sisa harapan pada romantisme pahlawan pergerakan akan serta-merta melabeli gerakan kita sebagai barisan pengkhianat. Jaringan sel kita akan dihabisi secara sosial sebelum sempat meluas.”

​Rian melepaskan tawa parau yang terdengar sedingin es—sebuah tawa dari seorang rasionalis yang baru saja menyaksikan berhala ideologisnya runtuh.

​“Inilah titik benturan yang paling menyakitkan dalam hukum dialektika,” interupsi Rian pelan. “Jika kita memilih untuk mengunci rapat-rapat dokumen ini demi mengamankan jalannya pergerakan, maka secara nyata kita telah berubah menjadi penjelmaan baru dari Pak Harjo—menyembunyikan kebenaran objektif demi memelihara ilusi semangat massa. Namun jika kita mempublikasikannya, kita berisiko menghancurkan fondasi yang selama ini kita gunakan untuk menegakkan akal sehat di bawah.”

​Otopsi Manuskrip di Celah Batu

​Waktu tidak lagi berpihak pada pelarian mereka. Jaringan intelijen Pak Harjo telah berhasil mendeteksi posisi wilayah penyangga desa. Paruh malam itu, deru mesin sepeda motor dan sayup-sayup teriakan mulai terdengar memotong keheningan dari kejauhan.

​Terdesak oleh situasi, mereka bertiga terpaksa melarikan diri ke sebuah celah gua batu vertikal di perbukitan kapur—sebuah tempat yang secara ironis menyuguhkan kemiripan visual dengan gua Bayah tempat Tan Malaka menggoreskan lembar awal Madilog tahun 1943.

​Di dalam gua yang lembap oleh rembesan air tanah, di bawah pendar cahaya senter yang mulai meredup, Rian membuka salinan digital bab terakhir Madilog yang asli untuk pertama kalinya. Teks tua yang mulai rapuh itu memuat tesis yang teramat dingin:

“Materialisme yang berjalan tanpa dikawal oleh kerendahan hati rasional hanya akan bermutasi menjadi sekte keserakahan ekonomi yang baru. Dialektika yang dipisahkan dari belas kasih kemanusiaan secara mekanis akan menjelma sebagai mesin pembunuh massal. Logika yang dilepaskan dari kesadaran etis hanya akan berakhir sebagai instrumen tirani birokrasi. Bangsa ini pada masa depannya akan abadi berganti baju tuan penindas—dari cengkeraman imperialis asing, bergeser ke meja kerja pejabat domestik, dikooptasi oleh gurita korporasi, hingga berakhir di tangan sesama revolusioner yang mabuk akan konsesi kekuasaan. Kemerdekaan yang sejati tidak pernah bersemayam pada warna kain bendera, melainkan pada isi kepala yang memelihara keberanian untuk selalu meragukan dirinya sendiri.”

​Rian melipat kembali lembaran data tersebut dengan telapak tangan yang mendingin. “Ini… sama sekali bukan amunisi untuk menyerang musuh, Arya. Ini adalah serpihan cermin yang dirancang untuk memecahkan seluruh topeng heroisme kita.”

​Tepat di atas dinding batu gua yang berlumut, suasana seolah berjalan melambat pekat. Siluet Tan Malaka muncul kembali dengan bentuk yang jauh lebih padat ketimbang episode sebelumnya. Ia duduk bersila dalam posisi asketisnya yang khas, namun gurat wajah tirusnya dilingkupi oleh kelelahan sejarah yang luar biasa.

​“Jadi, kalian telah berhasil membedah lembar aib intelektualku,” buka Tan Malaka, sebuah senyum satire terukir tipis di wajahnya. “Aku menggoreskan baris kalimat itu murni karena rasioku didera kengerian. Aku takut menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai pengikutku saat mereka berhasil memenangkan kekuasaan kelak. Dan hukum sejarah membuktikan ramalanku mutlak benar. Lihat saja manusia bernama Pak Harjo itu—ia menyewa namaku, mengomodifikasi teks Madilog, murni sebagai instrumen untuk memuluskan intrik politik kotor faksinya.”

​Rian berdiri, menatap lurus ke arah siluet sang pemikir besar. “Lalu tindakan nyata apa yang Anda tuntut dari kepala saya hari ini, Bang? Melemparnya ke publik dan menghancurkan seluruh mitos suci Tan Malaka? Atau memilih bungkam dan berubah menjadi barisan munafik baru seperti para birokrat yang Anda benci?”

​Tan Malaka melepaskan tawa rendahnya—sebuah suara tawa yang bergema di sela-sela dinding batu gua, terdengar laksana sebuah ejekan dingin terhadap riwayat perjuangannya sendiri.

​“Inilah koordinat ujian logika yang paling murni dan telanjang dalam hidupmu, Nak,” ujar Tan, sepasang matanya berkilat tajam menembus remang gua. “Jika kau memilih jalur publikasi, kau akan seketika dicap sebagai pengkhianat oleh massa yang kecewa. Jika kau memilih menyelamatkan mitos dengan menyembunyikannya, kau resmi mendaftarkan dirimu sebagai komponen baru dalam lingkaran setan yang sama. Pilih pilihan yang memiliki kadar kejujuran paling mutlak terhadap metodologi Materialisme.”

​Arya melangkah maju, membetulkan letak tasnya. “Ayah saya mengirimkan pesan… beliau menyatakan kesiapan nyata untuk menanggalkan seluruh posisi di kementerian demi menyokong penyebaran data ini. Namun beliau juga melempar peringatan: naskah ini memiliki potensi memicu kekacauan yang jauh lebih masif dari hari kemarin.”

​Pak Min menyeka sisa debu kapur yang melekat di wajahnya yang legam, menarik napas dalam. “Saya hanya seorang buruh harian lepas, Mas Rian. Namun logika berpikir saya yang bodoh ini memahami satu hal: kebenaran data yang sengaja disembunyikan demi menjaga ketenangan semu, pada hakikatnya adalah racun bagi kesadaran. Lebih baik struktur ini meledak berkeping-keping malam ini, ketimbang membiarkan racun ilusi itu terus mengonsumsi nalar generasi anak cucu kita di masa depan.”

​Barikade di Mulut Gua

​Sret.

​Suara gesekan langkah kaki di atas batu kerikil memotong sunyi gua secara presisi. Langkah kaki itu kian mendekat menuju pintu masuk. Pak Harjo telah berhasil memetakan persembunyian mereka, berdiri di mulut gua didampingi oleh tiga pria berpakaian sipil dengan laras senjata terhunus.

​“Segera melangkah keluar dan akhiri isolasi diri kalian, Rian!” teriak Pak Harjo dari luar, suaranya parau namun sarat akan tekanan. “Rasiomu masih memiliki nilai taktis untuk diselamatkan. Serahkan lembar manuskrip bab penutup itu kepada kami, dan kita akhiri seluruh gejolak ini melalui kesepakatan yang damai. Jangan kau hancurkan mimpi dan heroisme yang selama ini dibutuhkan oleh rakyat kecil!”

​Rian melangkah perlahan menuju batas luar mulut gua, jemarinya menggenggam erat lembar salinan data dengan cengkeraman yang dingin.

​Siluet Tan Malaka muncul untuk terakhir kalinya malam itu tepat di samping pundak Rian. Sepasang matanya memancarkan kombinasi kilat antara humor getir dan ketabahan seorang ideolog.

​“Pegang kompas logikamu dengan kuat, anak muda,” bisik suara Tan Malaka, nadanya terdengar jernih memotong bising angin perbukitan. “Sebuah proses pergerakan yang didera ketakutan akut terhadap kebenaran fakta, pada hakikatnya adalah sebuah pergerakan palsu yang manipulatif. Namun bersiaplah mengajukan pertanyaan pada pusat kesadaranmu: sudah siapkah rasiomu berubah menjadi entitas yang paling dibenci dan dikutuk oleh orang-orang yang selama ini paling kau sayangi demi tegaknya sebuah kewarasan?”

​Rian menarik napas panjang, menatap bayangan Pak Harjo yang berdiri di bawah siraman cahaya bulan di luar mulut gua. Rahangnya mengencang rapat, piringan hitung di dalam kepalanya telah selesai menetapkan arah fajar baru.

(Bersambung)


Catatan Redaksi / Disclaimer:

Seluruh rangkaian narasi dalam serial “Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai” ini merupakan karya fiksi spekulatif yang diinspirasikan dari traktat filsafat ekonomi-politik dalam buku MADILOG karya Tan Malaka.

Garis alur, karakterisasi tokoh (termasuk visualisasi tokoh sejarah), dinamika institusi, waktu, serta koordinat peristiwa yang digambarkan dalam teks ini sepenuhnya adalah rekaan kreatif penulis untuk kolom Literasi Anomali. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, maupun konformitas situasi linier dengan realitas aktual dalam industri tambang nikel atau kebijakan birokrasi, hal tersebut merupakan kebetulan matematis dan tidak merepresentasikan kebijakan resmi dari institusi mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *