Oleh: M Hero Firmansyah
Istana Proletar Beratap Seng
Pagi itu, Rian berdiri di bawah terik matahari yang mulai menyengat, menatap dua kardus berisi tumpukan baju, bundel fotokopi Madilog, dan sebuah setrikaan tua yang gagangnya sudah penyok. Di ambang pintu, ibu kos berdiri sembari menggenggam gembok kuningan yang baru. Ekspresi wajahnya memperlihatkan campuran antara rasa bersalah dan kepatuhan mutlak pada perintah pemilik bangunan.
“Maafkan Ibu, Nak Rian,” bisiknya, menghindari kontak mata. “Ini perintah langsung dari manajemen atas. Katanya keberadaanmu di sini mulai memicu kegaduhan.”
Rian hanya menyunggingkan senyum miris, lalu mengangkat kardusnya perlahan. “Kegaduhan apa, Bu? Saya hanya mengajak orang menggunakan rasio untuk bertanya, mengapa buruh di lingkar tambang sekaya ini tetap hidup melarat. Ternyata, menyebarkan akal sehat di sini jauh lebih terlarang ketimbang mencuri jaringan WiFi tetangga.”
Ia akhirnya pindah ke kawasan permukiman buruh, tepat di wilayah penyangga sekitar pabrik peleburan nikel. Sebuah kamar berukuran tiga kali tiga meter dengan atap seng bocor menjadi ruang barunya.
Di tempat inilah Rian merasakan arti materialisme yang sesungguhnya: kasur busa tipis yang sudah kempes, lampu dinding kekuningan yang berkedip-kedip, dan gigitan nyamuk tropis yang seolah-olah sengaja dilatih oleh korporasi untuk hanya menghisap darah para pekerja bawah.
“Selamat datang di istana proletar yang sesungguhnya, Mas,” seloroh Pak Min sembari tertawa, membantu meletakkan kardus pakaian Rian di sudut ruangan.
Namun, riak kecil di depan gerbang besi beberapa hari lalu terbukti tidak mati. Gerakan itu bekerja layaknya batu yang dijatuhkan ke pusat kolam yang tenang. Salinan pamflet mulai bermunculan secara senyap di area pabrik tambang sebelah. Beberapa di antaranya bahkan ditulis ulang menggunakan tangan di atas kertas buram. Malam-malam berikutnya, beberapa buruh dari sub-kontraktor berbeda mulai mendatangi barak Rian dengan langkah ragu.
“Mas Rian,” tanya salah seorang buruh muda dengan suara setengah berbisik. “Apakah benar pria bernama Tan Malaka ini menulis bahwa kemiskinan kita hari ini bukanlah takdir yang tak bisa digugat?”
Rian menjabarkan isi traktat itu dengan sabar, mengabaikan suara keroncongan dari perutnya sendiri karena sisa uang yang kian menipis.
Karat Sejarah di Gudang Logistik
Aktivitas yang mulai meluas itu rupanya mengundang perhatian dari figur yang tak pernah diduga sebelumnya.
Suatu sore, seorang pria sepuh berusia sekitar tujuh puluh lima tahun melangkah masuk ke dalam barak pengap Rian. Tubuhnya kurus dan ringkih, rambut putihnya mencuat acak-acakan, namun sepasang matanya memiliki sorot yang tajam layaknya bilah pisau tua yang menolak tumpul meski permukaannya telah digerogoti karat sejarah. Nama pria itu adalah Pak Harjo. Ia adalah mantan aktivis pergerakan dekade ’60-an yang sempat mencicipi atmosfer pergolakan fisik sebelum sejarah dibersihkan secara berdarah-darah.
“Jadi, ini anak muda yang dituduh sedang merancang kegaduhan itu,” buka Pak Harjo sembari duduk di atas bangku bambu, menghirup kopi tubruk hitam tanpa gula dengan khidmat. “Kau mengingatkan aku pada siluet Tan Malaka saat bergerak senyap tahun 1945. Sama nekatnya, sama kurusnya. Perbedaannya hanya terletak pada pakaian: kau mengenakan kaos oblong usang, sementara dia mengenakan kemeja rombeng.”
Rian terperanjat dari duduknya. “Bapak… pernah bertemu langsung dengan Tan Malaka?”
Pak Harjo melepaskan tawa rendah. Sebuah tawa yang terdengar dingin, tipikal dari seorang manusia yang telah terlalu sering menyaksikan lembaran sejarah dimanipulasi oleh para pemenang politik.
“Hanya sebuah diskusi singkat di sebuah gudang logistik pinggiran kota,” sahut Pak Harjo, matanya menerawang menembus langit-langit seng. “Kala itu, beliau berpesan kepada kami: ‘Jika sebuah revolusi hanya sebatas mengganti warna kain bendera tanpa merombak total cara berpikir massanya, maka esok hari kita akan kembali dijajah oleh bangsa sendiri dengan metode yang jauh lebih halus’. Dan lihatlah kenyataan hari ini. Kalimat itu terbukti mutlak. Kita hari ini dijajah menggunakan instrumen kontrak kerja sebelas bulan, retorika tanggung jawab sosial korporat, dan narasi mistis bahwa investasi asing adalah satu-satunya jalan keselamatan.”
Mbak Siti yang sedang merapikan jualan gorengannya menyela, “Lalu, apa yang mendasari keputusan Bapak untuk menemui kami di barak kumuh ini?”
Pak Harjo menatap lingkaran inti itu satu per satu dengan pandangan yang dalam.
“Karena aku sudah bosan melihat generasi kalian yang hanya pintar berdemo lewat media sosial dengan emoji kemarahan,” tegas Pak Harjo. “Kalian di ruangan ini mengambil jalur yang berbeda. Meskipun barisan kalian kecil, gerakan ini tumbuh dari masalah nyata di lapangan. Namun, kalian harus lebih waspada. Intelijen internal perusahaan telah menaikkan status gerakan kalian: dari yang semula dianggap gangguan kecil, kini resmi dikategorikan sebagai ancaman terhadap stabilitas investasi.”
Dari dalam tas kainnya yang lusuh, Pak Harjo mengeluarkan sebuah buku tua bersampul tebal yang permukaannya telah menguning dan berlubang di bagian sudutnya. Itu adalah naskah cetakan stensil kuno dari kitab Madilog.
“Ini dokumen asli. Saya menyimpannya di bawah tanah selama puluhan tahun,” ujar Pak Harjo, menyodorkannya ke tangan Rian. “Saya pinjamkan ini padamu. Namun ingat, teks ini ditulis bukan untuk sekadar dijadikan bahan diskusi atau keluhan keren. Ia ada untuk dihidupkan dalam tindakan nyata. Jika kau hanya membacanya sembari meratap tanpa memeriksa data lapangan, maka kau tidak berbeda dengan penganut Logika Mistika yang kau kutuk itu.”
Cahaya dan Bayangan Dialektika
Malam itu, di dalam barak yang pengap oleh hawa panas pesisir, Rian duduk di bawah temaram lampu lima watt, membuka lembar demi lembar warisan stensilan Pak Harjo dengan jemari yang bergetar.
Di sudut ruangan, di samping tumpukan piring plastik yang belum dicuci, waktu seolah melambat dan bergeser pekat. Siluet Tan Malaka kembali muncul, bersandar pada dinding tripleks sembari menyunggingkan senyum lebar penuh kebanggaan—namun tetap menyisipkan nada ejekan yang khas.
“Selamat atas ruang kerja barumu, Rian,” kata Tan Malaka, sorot matanya mengamati sekeliling barak. “Seknow kau telah tidur di atas lantai tanah barak buruh, persis seperti aku yang menghabiskan malam di dalam gua-gua Bayah. Asas materialisme kini telah menyatu sepenuhnya dalam denyut hidupmu.”
Rian menutup bukunya perlahan, menarik napas dalam-dalam. “Gerakan ini perlahan meluas, Bang. Namun di saat yang sama, risikonya melonjak berkali-kali lipat. Pak Harjo memberi tahu bahwa kami sudah masuk ke dalam radar pengawasan aparat.”
Tan Malaka terkekeh, membetulkan letak kacamata bulat imajiner di wajahnya. “Itu adalah bukti paling nyata bahwa metodemu mulai bekerja secara efektif, Rian. Jika gagasanmu tidak mengandung daya hancur bagi kemapanan mereka, maka itu bukanlah sebuah revolusi pikiran. Dialektika sedang membuktikan dirinya sendiri: semakin benderang cahaya akal sehat yang kau nyalakan, semakin pekat pula bayangan represi yang akan bangkit melawannya.”
Ia menunjuk buku kuno di pangkuan Rian dengan ujung pensil tua imajiner miliknya.
“Manfaatkan kehadiran Pak Harjo dengan matang. Manusia dari generasinya adalah jembatan sejarah yang penting. Namun, jangan pernah kau menggantungkan arah gerakan pada masa lalu. Generasi mudamu yang harus memegang kendali sepenuhnya. Jangan biarkan gagasan ini layu dan berubah menjadi komoditas seperti para aktivis tua di zamanmu—yang di masa mudanya berapi-api menantang kekuasaan, namun di masa senjanya justru berakhir nyaman menjadi konsultan birokrasi.”
Siluet sang pemikir perlahan mulai memudar, partikel cahayanya larut ke dalam keheningan malam yang sunyi.
“Dan satu saran taktis untuk esok pagi,” bisik suara Tan Malaka dengan nada satir yang kental sebelum keheningan total kembali meraja, “segeralah cuci pakaian kerjamu itu, Rian. Aroma keringat perjuangan kelas memang memiliki nilai sejarah, namun ia sama sekali tidak ramah bagi indra penciuman orang-orang di sekitarmu.”
Rian menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah halaman pertama cetakan stensil Madilog. Ia tahu, babak berikutnya akan menghadapkannya pada benturan yang jauh lebih sistemik.
(Bersambung)
Catatan Redaksi / Disclaimer:Seluruh rangkaian narasi dalam serial “Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai” ini merupakan karya fiksi spekulatif yang diinspirasikan dari traktat filsafat ekonomi-politik dalam buku MADILOG karya Tan Malaka.
Garis alur, karakterisasi tokoh (termasuk visualisasi tokoh sejarah), dinamika institusi, waktu, serta koordinat peristiwa yang digambarkan dalam teks ini sepenuhnya adalah rekaan kreatif penulis untuk kolom Literasi Anomali. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, maupun konformitas situasi linier dengan realitas aktual dalam industri tambang nikel atau kebijakan birokrasi, hal tersebut merupakan kebetulan matematis dan tidak merepresentasikan kebijakan resmi dari institusi mana pun.



