NAMLEA – Kawasan perairan Pulau Buru, Maluku, kini resmi menjadi arena baru bagi eksperimen pemulihan ekosistem laut nasional. Melalui proyek ambisius restorasi terumbu karang, wilayah yang kaya akan keanekaragaman hayati ini sedang berupaya memasang “perisai ekologis” guna membentengi diri dari dampak destruktif perubahan iklim global dan aktivitas penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing).
Retorika Restorasi vs Realita Lapangan
Secara teoritis, program restorasi terumbu karang selalu terdengar seksi di atas kertas draf kebijakan. Menanam ribuan struktur karang buatan dinilai sebagai jalan pintas instan untuk memulihkan rumah bagi komoditas perikanan pelagis dan demersal yang menjadi urat nadi ekonomi nelayan lokal. Langkah ini ditempatkan sebagai pilar utama penguatan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Pulau Buru.
Namun, di balik optimisme birokrasi tersebut, terdapat catatan kritis yang tidak boleh diabaikan. Restorasi terumbu karang sering kali berakhir menjadi proyek seremonial yang “membakar duit” negara jika tidak dibarengi dengan penegakan hukum (law enforcement) yang radikal di hulu. Menanam karang baru tanpa menghentikan laju penggunaan bom ikan, potasium, dan jangkar kapal sembarangan adalah sebuah kesia-siaan ekologis.
Mengunci Kedaulatan Nelayan Tradisional
Kunci keberlanjutan perairan Pulau Buru sebenarnya tidak terletak pada seberapa canggih teknologi transplantasi karang yang diturunkan, melainkan pada ketegasan pembagian zonasi pemanfaatan ruang laut. Pemda Maluku dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dituntut untuk memberikan hak eksklusif tata kelola kepada komunitas nelayan tradisional setempat.
Dengan melibatkan masyarakat adat dan lokal sebagai “sipir penjaga” wilayah laut mereka sendiri, struktur karang yang direstorasi dapat tumbuh menjadi investasi biologis. Ini adalah upaya jangka panjang untuk mengamankan ketahanan pangan (food security) regional, sekaligus memastikan bahwa Pulau Buru tidak hanya menjadi objek konservasi yang sunyi, melainkan ekosistem produktif yang mandiri.
Foto cover: Upaya pemulihan ekosistem laut di Pulau Buru, Maluku, mulai diperkuat melalui program konservasi terpadu bertajuk Rediscover Buru Moving Forward yang digagas Wanadri Women Divers (WWD). Program tersebut menggabungkan restorasi terumbu karang, riset lingkungan, pemberdayaan masyarakat pesisir, hingga pengembangan ekowisata berkelanjutan. (Foto: Istimewa)
Sumber: Info Publik




