ADA SEBUAH KORELASI sosiologis yang ngeri-ngeri sedap antara struktur sebuah keluarga dengan tatanan sebuah negara: ketika figur pemimpin kehilangan otoritas moralnya, maka yang tersisa di bawahnya hanyalah anak-anak yang kebingungan mengeja masa depan. Premis eksistensial inilah yang dijahit dengan sangat anggun oleh sutradara British-Nigerian, Akinola Davies Jr., dalam debut film panjangnya, My Father’s Shadow (2025).
Mendapat penghargaan Special Mention Caméra d’Or di Cannes dan dipilih sebagai perwakilan Inggris untuk Oscar International Feature, film produksi bersama BBC Film dan BFI ini mulai mendarat secara terbatas di bioskop dan platform MUBI pada 2026. Davies Jr. tidak sedang menyajikan drama politik Afrika yang penuh letupan senjata klise; ia melakukan otopsi terhadap trauma kolektif sebuah bangsa melalui fragmen ingatan dua bocah lelaki di kursi belakang mobil peninggalan era kolonial.
“My Father’s Shadow berhasil menegakkan sebuah metafor politik yang destruktif: bahwa absennya seorang ayah dalam ruang domestik adalah refleksi dari bagaimana sebuah negara berulang kali ditinggalkan dan dikhianati oleh para pemimpinnya.”
Explore Global Cinema Insights: Post-Colonial Trauma & Coming-of-Age →Sinopsis: Tiket Menuju Kota dan Janji Demokrasi yang Dianulir
Berlatar tahun 1993—sebuah fajar historis di mana Nigeria hampir saja mencicipi demokrasi sejati melalui pemilu legendaris MKO Abiola sebelum akhirnya dianulir secara sepihak oleh junta militer—cerita bergulir dari sudut pandang Remi dan Akin. Dua saudara kecil dari pedalaman ini mendadak dijemput oleh ayah mereka, Folarin (Ṣọpẹ́ Dìrísù), seorang pria karismatik yang selama ini hanya hadir sebagai bayang-bayang imajiner dalam hidup mereka, untuk pelesir ke ibu kota Lagos.
Perjalanan tersebut awalnya terasa seperti petualangan magis yang dipenuhi keajaiban kota besar. Namun, seiring dengan meningkatnya tensi politik di jalanan Lagos, topeng Folarin perlahan retak. Di balik tawa bertenaga dan diskursus politiknya, Folarin adalah personifikasi dari krisis Nigeria itu sendiri: seorang ayah yang terbebani oleh ekspektasi maskulinitas Afrika, remuk oleh impian ekonomi yang macet, dan gagal untuk benar-benar “hadir” bagi darah dagingnya. Konflik emosional film ini bergerak dalam keheningan yang mencekam, di mana kekecewaan anak-anak tidak diledakkan lewat tangisan, melainkan lewat tatapan mata yang perlahan kehilangan kepolosan.
Audit Strategis: Sinkronisasi Krisis Domestik dan Keos Geopolitik
Analisis ini membedah bagaimana instrumen sinematografi 16mm dan narasi semi-autobiografi Davies Jr. membongkar relasi kuasa dalam ruang lingkup keluarga pasca-kolonial.
Vonis GetNews:
My Father’s Shadow adalah sebuah mahakarya sinema kontemporer yang menuntut kesabaran tingkat tinggi. Penonton yang terbiasa dengan narasi linier berkecepatan tinggi atau resolusi emosional yang rapi mungkin akan merasa jengah dengan temponya yang merayap lambat serta konklusi cerita yang dibiarkan menggantung lebar. Ketidakfamiliaran penonton global terhadap detail sejarah Nigeria 1993 juga berpotensi menciptakan jarak pembacaan.
Namun, kedalaman performa akting Ṣọpẹ́ Dìrísù yang disokong oleh keluguan magis dua aktor ciliknya berhasil melahirkan lanskap intim yang melintasi batas-batas teritorial. Akinola Davies Jr. sukses membuktikan bahwa luka batin terkadang tidak perlu disembuhkan lewat dialog-dialog besar, melainkan cukup diakui kewarasannya di bawah pendar lampu bioskop yang redup.
Skor GETNEWS: 8.5 / 10
Panduan Penonton & Kurasi Editorial
Rekomendasi:
- Wajib ditonton bagi yang menyukai drama keluarga lambat dan penuh nuansa.
- Sangat cocok untuk pecinta sinema Afrika, film coming-of-age, dan yang tertarik sejarah Nigeria.
- Kurang cocok bagi yang mencari cerita action atau plot twist dramatis.
Siapa yang harus nonton?
- Anak-anak yang pernah merindukan ayahnya, ayah yang merasa gagal hadir untuk anaknya, dan siapa saja yang ingin memahami bagaimana politik besar memengaruhi kehidupan kecil keluarga biasa.




