DI SAAT PARA ELITE di pusat kekuasaan sedang asyik memoles citra lewat janji memantau negara dari langit dan sibuk membagi-bagikan proyek berkedok gizi, ribuan mahasiswa memutuskan untuk mengembalikan fungsi trotoar sebagai ruang sidang rakyat yang sesungguhnya. Gelombang kemarahan atas kenaikan harga BBM nonsubsidi akhirnya pecah dan mengkristal di jantung ibu kota.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Yatalathof Mashum Imawan, mengungkapkan bahwa sedikitnya 3.000 mahasiswa telah mengepung kawasan Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat, 12 Juni 2026. Aksi massa ini menjadi klimaks dari rangkaian mosi tidak percaya terhadap kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai kian mencekik leher masyarakat kelas menengah.
Sinyal pembangkangan sipil dari sektor pemuda ini sebenarnya sudah menyala sporadis di berbagai daerah sejak tengah pekan. Pada Rabu, 10 Juni 2026 malam, mahasiswa di Kendari sudah lebih dulu memblokade urat nadi jalanan dan membakar ban sebagai simbol matinya nalar keadilan energi. Keesokan harinya, Kamis, 11 Juni 2026, giliran mahasiswa di Bandung yang bergerak mengepung Gedung DPRD Jawa Barat. Polanya serupa: mereka muak dengan retorika pejabat yang mengklaim kenaikan Pertamax tidak akan memicu inflasi.
Bagi Istana, demonstrasi serentak ini adalah tamparan keras yang membuyarkan zona nyaman mereka. Ketika pejabat publik sibuk membuat sayembara berhadiah dapur atau beralasan bahwa kenaikan bensin sekadar mengikuti syahwat pasar global, mahasiswa justru mengingatkan realitas yang ada di atas aspal. Kebijakan menaikkan harga energi di tengah tren penurunan daya beli adalah resep paling mujarab untuk memantik kembali radikalisme gerakan jalanan.
Jika aspirasi ribuan jaket almamater di Bundaran HI ini hanya direspons dengan penutupan barikade kawat berduri dan gas air mata, pemerintah sedang menabung bom waktu yang jauh lebih besar. Mengelola negara tidak bisa hanya mengandalkan keahlian berakrobat kata di mimbar munas pengusaha atau pamer keakraban dengan pemimpin dunia. Sebab, sekencang apa pun narasi keberhasilan diproduksi oleh humas kementerian, ia akan selalu kalah nyaring oleh teriakan ribuan orang yang perutnya makin lapar di jalanan.
INFORMASI UTAMA
Ribuan mahasiswa dari berbagai elemen menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Bundaran HI sebagai bentuk perlawanan terhadap paket kebijakan fiskal dan energi pemerintah. Laporan selengkapnya dapat diakses di Tribunnews.com.




