Mataram — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) menempuh taktik baru dalam upaya pengentasan kemiskinan ekstrem di wilayah pedesaan melalui integrasi kepakaran akademik. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama Rektor Universitas Mataram (Unram) Prof. Sukardi resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kolaborasi strategis pada Kamis, 9 Juli 2026. Langkah ini mempertemukan dua program unggulan sektoral: “Desa Berdaya” milik Pemprov NTB dan “Profesor Berdampak” besutan Universitas Mataram.
Sinergi ini menandai pergeseran paradigma intervensi sosial di Bumi Gora, dari yang semula bertumpu pada skema bantuan karitatif (bantuan sosial) yang dinilai kurang berkelanjutan, menjadi mobilisasi sains terapan secara massal. Otoritas berupaya meruntuhkan sekat menara gading universitas dengan memaksa para intelektual tingkat tinggi untuk terlibat langsung dalam industrialisasi skala mikro di tingkat pedesaan, guna membangun ketahanan ekonomi domestik yang mandiri dari tingkat akar rumput.
Hilirisasi Sains dan Pendampingan Tiga Tahun
Guna memastikan implementasi program berjalan secara konkrit dan terukur di lapangan, cetak biru kolaborasi ini mengunci sejumlah target operasional yang ketat:
- Mobilisasi Pakar Berskala Masif: Sebanyak 122 Profesor yang terbagi ke dalam 22 kelompok kepakaran diturunkan langsung ke berbagai desa tertinggal guna mentransfer hasil riset mutakhir kampus ke dalam sektor riil masyarakat.
- Intervensi Inovasi Berkelanjutan: Para Guru Besar diwajibkan memberikan solusi praktis terkait pengolahan potensi lokal, manajemen komoditas, hingga efisiensi rantai pasok agraria pedesaan.
- Durasi Kontrak Jangka Menengah: Kerja sama ini dikunci dalam linimasa target selama 3 tahun ke depan, yang nantinya akan diperluas dengan mengintegrasikan keterlibatan dosen muda serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik.
”Mengatasi kemiskinan ekstrem tidak cukup hanya dengan jaring pengaman sosial atau bantuan di atas kertas. Masyarakat desa butuh pendampingan langsung dan inovasi agar benar-benar mandiri secara ekonomi,” tegas Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal.




