MATARAM — Kawasan Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang selama ini lebih dikenal sebagai tuan rumah ajang balap motor internasional, kini mulai mengalihkan fokus pada daya tarik lain: kuliner lokal.
Pemerintah Provinsi NTB resmi membuka Mandalika Street Food Festival pada Jumat di area Bazaar Mandalika dan Kuta Lane. Perhelatan yang berlangsung selama tiga hari hingga Minggu ini mencerminkan strategi pemerintah yang lebih luas untuk mendiversifikasi daya tarik wisata Mandalika di luar agenda olahraga musiman, sekaligus mengintegrasikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal ke dalam ekosistem ekonomi modern.
Mengangkat Kuliner Warisan
Meskipun agenda utama ke Mandalika biasanya berputar di sekitar Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, otoritas regional kini mendorong warisan kuliner pulau tersebut ke garda depan. Festival ini menyajikan deretan hidangan legendaris daerah bersandingan dengan produk kriya tradisional.
- Kuliner Autentik: Hidangan khas termasuk Ayam Taliwang, Sate Rembiga, Sate Bulayak, Sate Tanjung, hingga Nasi Balap.
- Produk Budaya: Kain tenun khas Lombok (wastra), produk kerajinan tangan, serta pilihan kopi lokal terbaik.
Diversifikasi ini dilakukan seiring upaya pemerintah daerah untuk memastikan bahwa investasi infrastruktur masif di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat luas, khususnya para pelaku usaha mikro setempat.
Digitalisasi Sektor Informal
Dalam upaya memodernisasi ekonomi informal lokal, panitia mewajibkan seluruh tenant untuk mengadopsi sistem pembayaran digital QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Langkah ini sejalan dengan mandat Jakarta untuk mempercepat transaksi nontunai di pusat-pusat wisata guna mendorong inklusi keuangan dan mempermudah transaksi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Selain stan makanan, festival ini juga dimeriahkan oleh kompetisi panco (arm wrestling), peragaan busana yang menampilkan wastra lokal, serta sesi melukis langsung—sebuah upaya untuk mentransformasi ruang ritel menjadi destinasi budaya yang hidup.




