KEBIASAAN MINUM TEH selama ini diidentikkan dengan berbagai efek positif bagi kesehatan, mulai dari menekan risiko penyakit jantung hingga mencegah demensia. Namun, temuan terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Internal Medicine menunjukkan bahwa manfaat kardiovaskular tersebut tidak hanya bergantung pada jenis teh yang dikonsumsi, melainkan juga pada cara penyeduhan dan suhu penyajiannya.
Studi yang mengamati pola konsumsi ribuan responden tersebut menemukan adanya perbedaan dampak kesehatan antara penikmat teh panas, hangat, hingga teh yang diseduh dengan tambahan bahan lain seperti susu atau gula tinggi. Ekstrak antioksidan seperti flavonoid—zat aktif utama dalam teh yang berfungsi menjaga elastisitas pembuluh darah—dapat terpengaruh oleh teknik pemrosesan dan suhu air saat diseduh.
| Indikator Parameter | Temuan Klinis & Metodologi | Dampak Kesehatan Kardiovaskular |
|---|---|---|
| Suhu Penyeduhan Optimum | Air hangat/sedang (tidak mendidih ekstrem) | Menjaga keutuhan kadar flavonoid & polifenol |
| Campuran Tambahan | Penggunaan susu kental & gula murni | Menurunkan efektivitas penyerapan antioksidan |
| Profil Risiko Jantung | Konsumsi rutin 2–3 cangkir/hari tanpa pemanis | Penurunan risiko stroke & PJK hingga 12% |
Para peneliti mencatat bahwa penyeduhan pada suhu ekstrem yang terlalu panas berpotensi memicu iritasi jaringan, sementara penambahan lemak jenuh secara berlebihan dapat mengurangi penyerapan senyawa bermanfaat dalam darah.
Riset Lengkap: Hubungan Metode Penyeduhan Teh dan Risiko Kardiovaskular [Journal of Internal Medicine]



