
Presiden Prabowo Pimpin Ratas Ekonomi: Fundamental Tetap Kuat, Targetkan Belanja Akhir Tahun Rp990 Triliun
JAKARTA — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memimpin rapat terbatas (ratas) bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, guna mengevaluasi perkembangan ekonomi nasional serta strategi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjelang penutupan tahun 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa seluruh indikator utama ekonomi nasional menunjukkan performa yang solid dan berdaya tahan tinggi di tengah ketidakpastian pasar global.
Penguatan tersebut tercermin dari melonjaknya indeks manufaktur, konsistensi surplus neraca perdagangan, terjaganya inflasi nasional pada level 3,23 persen, serta derasnya aliran modal asing (capital inflow) melalui instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Audit Strategis: Indikator Ekonomi Makro & Postur APBN Akhir Tahun 2026
| Vektor Parameter | Rincian Capaian Substantif & Arahan Presiden Prabowo |
|---|---|
| Tingkat Inflasi Nasional | Tercatat sebesar 3,23 persen pada Oktober 2026 (Tetap berada dalam rentang target sasaran pemerintah). |
| PMI Manufaktur Indonesia | Melonjak pesat ke level 54 pada Oktober 2026 dari sebelumnya di kisaran 52 (Fase ekspansif). |
| Target Penerimaan (Nov–Des) | Ditargetkan menembus lebih dari Rp600 Triliun pada sisa dua bulan akhir tahun. |
| Rencana Belanja (Nov–Des) | Direncanakan sebesar Rp990 Triliun dengan prinsip percepatan, efisiensi, & good governance. |
| Instrumen Aliran Modal Masuk | Perkuatan arus modal asing (capital inflow) via Surat Berharga Negara (SBN) & SRBI. |
*Sumber: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden (BPMI Setpres) (Data Diolah per 3 November 2026)
Manufaktur Ekspansif ke Level 54 dan Modal Asing Terus Mengalir
Dalam pemaparannya, Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengutarakan bahwa sektor industri manufaktur Indonesia menunjukkan gairah yang sangat positif. Indeks Manufaktur (Purchasing Managers’ Index/PMI) meningkat signifikan dari level 52 menjadi 54 pada Oktober 2026, yang mencerminkan optimisme pelaku usaha dan peningkatan permintaan produksi nasional.
Stabilitas harga bahan pokok yang terjaga juga menopang tingkat konsumsi domestik. Pemerintah memastikan realisasi pendapatan dan belanja APBN hingga akhir Oktober berjalan akuntabel dan sesuai jalur (on the track).
Di sisi pasar keuangan, arus masuk modal asing melalui Surat Berharga Negara (SBN) serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) semakin memperkuat cadangan devisa dan stabilitas nilai tukar Rupiah.
Target Belanja Rp990 Triliun: Prabowo Tekankan Efisiensi dan Akuntabilitas
Memasuki periode akhir tahun (November–Desember 2026), pemerintah telah menyusun proyeksi eksekusi APBN secara cermat. Kemenkeu menargetkan penerimaan negara dapat dihimpun lebih dari Rp600 triliun, sementara alokasi belanja negara direncanakan mencapai kisaran Rp990 triliun guna menstimulus pertumbuhan ekonomi di triwulan IV.
Presiden Prabowo Subianto secara khusus menginstruksikan kepada seluruh menteri dan pimpinan lembaga agar percepatan realisasi penyerapan anggaran akhir tahun tidak sekadar mengejar kuantitas, tetapi wajib mengedepankan prinsip transparansi, tata kelola yang baik (good governance), efisiensi anggaran, serta pencapaian target pembangunan nasional secara nyata.