Gorontalo

Guludan dan Rumput Odot jadi Solusi Budidaya Jagung di Lahan Miring Gorontalo

Kota Gorontalo, getnews Inovasi berupa pembuatan guludan yang diperkuat dengan rumput odot, menjadi salah satu tawaran praktik budidaya jagung yang menarik perhatian di Provinsi Gorontalo.

Teknik konservasi itu diharapkan dmampu menahan laju erosi dan gerusan air permukaan, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung dari tahun ke tahun.

Tawaran itu disampaikan oleh tim peneliti dari Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapppeda) Provinsi Gorontalo dalam sebuah diskusi kelompok terpumpun yang membahas sistem usahatani konservasi untuk jagung di lahan berlereng.

Ketua tim peneliti, Zulham Sirajuddin, yang didampingi oleh anggota Fardyansyah Hasan, Ivana Butolo, dan Gema Putra Baculu, memaparkan tantangan peningkatan produktivitas jagung.

“Permasalahan dan tantangan peningkatan produktivitas jagung itu adalah ekologi, ekonomi, dan sosial,” kata Zulham, Selasa (4/11/2025).

Zulham mengatakan, Gorontalo didominasi oleh lahan miring yang mencapai 89,84 persen dari total wilayah.

Rinciannya, lahan dengan kemiringan 5-15 persen seluas 15,76 persen, kemiringan 15-40 persen mendominasi dengan 48,55 persen, dan lahan sangat curam di atas 40 persen mencakup 25,53 persen.

Menurut Zulham, minat petani lokal untuk mencoba teknik guludan ini terpantau cukup tinggi.

Pola belajar petani yang cenderung dengan cara melihat menjadi pertimbangan, di mana guludan dianggap cocok untuk kemiringan tertentu dan memungkinkan penanaman komoditas lain selain jagung.

Kelebihan lainnya, pembuatan guludan dinilai lebih mudah dibandingkan bedengan, sehingga tidak menyulitkan petani. Hal ini dibuktikan dengan penerapannya yang pernah dilakukan di beberapa lokasi, salah satunya dalam kombinasi dengan lamtoro.

Adapun integrasi dengan rumput odot sebagai penguat teras pada guludan membawa segudang manfaat ekonomi dan praktis. Penggunaan rumput odot dapat mengurangi pengeluaran petani untuk pembelian pakan ternak, sekaligus menghemat waktu dan tenaga yang biasanya digunakan untuk mencari pakan.

Budidaya rumput odot sendiri dinilai sederhana, sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebiasaan petani, serta berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan.

Meski demikian, Zulham dan tim juga mengingatkan adanya tantangan yang perlu diwaspadai, seperti potensi rimbunnya rumput odot menjadi sarang tikus dan kekhawatiran terjadinya persaingan nutrisi antara rumput odot dan tanaman jagung. Poin penting yang ditekankan adalah bahwa teknik ini tidak dapat diterapkan pada lahan miring yang memiliki kemiringan sangat besar atau curam.

Diskusi yang dinamis ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bapppeda Gorontalo, Wahyudin A Katili, dan dihadiri oleh sejumlah pejabat penting seperti Staf Khusus Gubernur Bidang Agro-maritim Ishak Ntoma, perwakilan dari organisasi seperti SKALA, perangkat daerah terkait, serta berbagai undangan lainnya, menandakan komitmen multipihak dalam mencari solusi berkelanjutan untuk pertanian jagung di Gorontalo. (mcgorontaloprov).

infopublik.id/Foto cover: Peneliti dari Bappeda Provinsi Gorontalo, Zulham Sirajuddin (kedua dari kiri) saat memaparkan kajiannya mengenai inovasi dalam budidaya jagung, Selasa (4/11/2025). (foto RAA)