Batam, getnews – Di antara riuhnya ruang digital yang tak pernah tidur, sebuah kisah dari Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali diangkat. Bukan untuk mengingatkan soal bencana, tetapi tentang sebuah harapan kecil yang tumbuh dari kepanikan warga desa ketika Gunung Lewotobi erupsi pada 2024.
Kala itu, sebuah kabar yang tidak jelas sumbernya menyebar begitu cepat. Warga panik, saling bertanya, bahkan ada yang saling mencurigai. Namun di balik kekacauan itu, lahir sebuah inisiatif sederhana, yaitu warga membentuk kelompok kecil untuk memeriksa setiap informasi sebelum menyebarkannya.
“Mereka berdiskusi, saling mengingatkan, dan menjaga ruang komunikasi desa tetap tenang. Ruang digital kita ini sebenarnya juga sebuah desa. Dan desa itu harus dijaga, dirawat, dan diisi dengan niat baik,” kata Direktur Informasi Publik Nursodik Gunarjo ketika mewakili Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Fifi Aleyda Yahya membuka kegiatan CommuniAction dengan tema “Aksi Nyata, Komunikasi Terencana” di Batam, Kamis (27/11/2025).
Kisah itu menjadi jembatan untuk menegaskan pentingnya literasi digital di tengah arus informasi yang bergerak tanpa jeda. Literasi digital bukan sekadar kemampuan memahami pesan, tetapi kemampuan menjaga ekosistem informasi agar tetap sehat dari tingkat komunitas hingga ruang digital nasional.
Di hadapan peserta CommuniAction, Nursodik menjelaskan bagaimana IGID Menyapa hadir sebagai ruang belajar bersama: masyarakat, komunitas, dan media center diajak memproduksi informasi yang lebih bertanggung jawab.
Mulai dari jurnalisme publik, storytelling mengenai program pemerintah, hingga latihan memahami mana informasi yang jernih dan mana yang perlu diverifikasi. Tiga bekal penting yang harus dibawa pulang peserta: ilmu, jaringan, dan komitmen.
“Komitmen untuk menjaga ruang digital tetap aman, produktif, dan saling menguatkan. Jika desa kecil bisa menjaga ruang komunikasinya, maka kita sebagai negara besar pasti bisa,” ujar Nursodik.
Di balik panggung, CommuniAction sendiri menjadi panggung kolaborasi yang mempertemukan tiga kekuatan utama komunikasi publik KPM: Media Monitoring FoMo, pemberdayaan komunitas melalui IGID Menyapa, dan penguatan kreativitas digital melalui SOHIB Berkelas.
Kehadiran tokoh dan praktisi komunikasi seperti Latief Siregar (Tenaga Ahli Ditjen Komunikasi Publik dan Media), Dody Rochady (CEO Brightminds Communication), Singgih Aji Abiyuga (Head Production Indonesia.go.id) dan Rulli Nasrullah (akademisi dan praktisi media digital) makin memperkaya diskusi tentang bagaimana menjaga ruang informasi tetap sehat.
Dari desa terpencil hingga dunia digital yang luas, pesan yang sama bergema: literasi informasi adalah tanggung jawab bersama. Dan melalui CommuniAction, gerakan itu kini menemukan wujudnya.
Foto cover: Direktur Informasi Publik Nursodik Gunarjo ketika mewakili Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Fifi Aleyda Yahya dalam kegiatan CommuniAction dengan tema “Aksi Nyata, Komunikasi Terencana” di Batam, Kamis (27/11/2025).
infopublik.id




