AMBARA – Kursi panas Rektor Universitas Mataram (Unram) mulai mengerucut. Kamis, 18 Desember 2025, Senat Unram baru saja selesai melakukan “screening” ketat. Hasilnya? Dari lima nama yang bertarung, kini tersisa tiga pendekar yang bakal memperebutkan restu terakhir dari Jakarta.
Prof. Sukardi tampil sebagai “top scorer” dengan perolehan suara yang cukup jomplang dari rival-rivalnya. Sepertinya, strategi lobi-lobi intelektual beliau di tingkat senat berhasil membius sebagian besar pemilik suara.
Skor Akhir Penjaringan Senat Unram:
Biar nggak bingung baca narasi, nih kami buatkan tabel “klasemen” sementaranya:
| Nama Calon Rektor | Perolehan Suara | Status |
|---|---|---|
| Prof. Sukardi | 34 | Lolos (Peringkat 1) |
| Prof. Muhammad Ali | 16 | Lolos (Peringkat 2) |
| Prof. Kurniawan | 6 | Lolos (Peringkat 3) |
| Prof. Yusron Saadi | 2 | Tereliminasi |
| Prof. Dedy Suhendra | 1 | Tereliminasi |
Jakarta Punya 35 Persen!
Buat yang belum tahu, lolos di tingkat Senat (59 suara) ini baru langkah awal. Pertarungan sesungguhnya ada di tangan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek).
Ingat, suara Menteri itu bobotnya 35 persen. Jadi, meskipun Prof. Sukardi menang telak di Mataram, hasil akhirnya bisa saja berubah kalau “chemistry” dengan Jakarta lebih klik ke calon lain. Di sinilah letak serunya Pilrek; ini bukan cuma soal siapa yang paling jago di kampus, tapi siapa yang paling dipercaya pusat untuk mengawal kampus biru ini di masa depan.
Selamat untuk tiga besar! Buat Prof. Dedy dan Prof. Yusron, jangan berkecil hati, satu atau dua suara itu tetap suara hati nurani. Sekarang, mari kita siapkan kopi dan melihat bagaimana tiga nama ini “berakrobat” meyakinkan Pak Menteri di Jakarta.
Siapapun yang jadi Rektor nanti, PR-nya cuma satu: Jangan sampai mahasiswa Unram lebih sibuk demo soal UKT daripada mikirin skripsi.




