“Rakyat renang gaya bebas, rekening Pemda tetap gemoy dengan gaya berkelas. Sebuah tutorial ‘Cuan di Tengah Banjir’ yang bikin Menkeu Purbaya geleng-geleng kepala!”
AMBARA – Menjadi pejabat di Aceh Tamiang sepertinya butuh keahlian khusus yang tidak diajarkan di IPDN maupun kursus kepemimpinan mana pun: pandai menabung di waktu yang paling tidak tepat. Bayangkan saja, air bah sudah merendam ruang tamu warga hingga sedada, tapi dana daruratnya masih betah rebahan santai di rekening bank. Alasannya? Mungkin sedang menunggu bunga bank mekar sempurna seperti taman bunga di musim semi. Kelakuan ini membuat Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa gemas dan langsung melancarkan “smash” tajam. Beliau menyentil keras kebiasaan Pemda yang hobinya mengoleksi bunga bank daripada mengoleksi senyum rakyat yang terbantu. Ini benar-benar sebuah rekor baru dalam dunia investasi: mencari cuan di atas penderitaan genangan.
Tim AMBARA mencoba membedah logika unik ini. Mungkin Pemda Aceh Tamiang sedang menerapkan prinsip frugal living tingkat kabupaten. Rakyat disuruh hemat energi dengan cara gelap-gelapan kena banjir, sementara anggaran darurat tetap awet, mulus, dan wangi bunga bank. Padahal, Menkeu sudah berulang kali mengingatkan bahwa dana bencana itu sifatnya mendesak. Kalau cuma didiamkan di bank buat nyari bunga, mending namanya diganti saja jadi “Dana Arisan Daerah”, biar jelas siapa yang dapat kocokan bunganya tiap bulan. Rakyat mah butuh perahu karet, tapi dikasihnya harapan deposito. Bencana mah musibah, kalau bunga bank mah anugerah. Begitulah kira-kira prinsip manajemen krisis ala pengoleksi saldo gemoy.
Mari kita bandingkan dengan jujur. Di saat air masuk rumah, orang normal bakal beli pompa atau evakuasi warga, tapi kolektor bunga malah sibuk cek saldo untuk memastikan bunga sudah cair atau belum. Saat warga kelaparan dan butuh dapur umum secepat kilat, mereka mungkin masih sibuk rapat membahas pembukaan deposito baru. Bahkan instruksi Menkeu yang seharusnya dianggap perintah panglima, justru dianggap suara radio rusak yang hanya lewat begitu saja. Hobi mengoleksi bunga itu bagus kalau Bapak adalah seorang florist atau pemilik toko bunga. Tapi kalau Bapak adalah pengelola daerah, hobi mengumpulkan bunga bank di tengah jeritan warga itu namanya bukan lagi investasi, melainkan “Birokrasi Tanpa Nurani”.
Sentilan Menkeu Purbaya harusnya jadi alarm keras yang membahana dari Sabang sampai Merauke. Dana bencana itu buat diputar ke perut rakyat, bukan buat dikunci di brankas demi angka gemoy di buku tabungan. Ayo Pak Pejabat, belanjakan sekarang juga, atau mau nunggu airnya surut dan anggarannya ganti judul jadi dana santunan pemakaman? Ingat ya, rakyat itu makannya nasi bungkus yang dibeli pakai uang anggaran, bukan makan angka bunga yang muncul di aplikasi mobile banking Bapak. Saatnya stop gaya menabung yang bikin rakyat makin limbung.




