BANDUNG, GETNEWS. – Holding BUMN Pertahanan, Defend ID, melalui kolaborasi strategis antara PT Pindad dan PT PAL, resmi memperkenalkan senjata perontok drone (anti-drone) tercanggih yang diklaim sebagai satu-satunya di dunia. Alutsista ini mengintegrasikan dua metode pelumpuhan sekaligus—Soft Kill dan Hard Kill—dalam satu kendaraan taktis bergerak, sebuah inovasi yang diprediksi akan mengubah peta teknologi pertahanan udara jarak pendek global.
Senjata ini disiapkan untuk menjaga objek vital nasional, termasuk memberikan proteksi maksimal bagi wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) dari ancaman nirawak.
Baca juga: Mengulas Peran Strategis Defend ID dan Senjata Anti-Drone “Ganda” Pertama di Dunia
Spesifikasi Superior: Kombinasi Soft Kill & Hard Kill
Keunggulan platform ini terletak pada kemampuannya untuk memilih metode pelumpuhan sesuai dengan tingkat ancaman yang dihadapi.
| Fitur Teknologi | Mekanisme Kerja & Jangkauan |
|---|---|
| Sistem Soft Kill | Menggunakan frekuensi Jamming untuk memutus sinyal kendali drone hingga radius beberapa kilometer. |
| Sistem Hard Kill | Senjata api otomatis (proyektil) untuk menghancurkan fisik drone secara instan jika tetap mendekat. |
| Mobilitas | Terintegrasi pada kendaraan taktis (Rantis), memungkinkan perlindungan area secara dinamis. |
| Status Global | Satu-satunya di dunia yang menyatukan kedua sistem dalam satu paket platform mobile. |
Memutus Ketergantungan Impor
Kehadiran senjata anti-drone ini membuktikan bahwa insinyur dalam negeri mampu bersaing dengan raksasa pertahanan dunia. Langkah ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mewujudkan kemandirian alutsista dan meminimalisir ketergantungan pada produk impor. Dengan kemampuan produksi lokal, Indonesia tidak hanya meningkatkan daya gentar (deterrence effect) di kawasan, tetapi juga membuka peluang ekspor alutsista ke negara-negara sahabat.
Benteng Langit Nusantara
Sistem ini dirancang khusus untuk menghadapi ancaman asimetris modern. Integrasi sistem kendali dari PT PAL dan teknologi persenjataan dari PT Pindad memastikan bahwa drone penyusup dapat dideteksi dan dilumpuhkan sebelum mencapai zona terlarang. Keberhasilan ini menempatkan Indonesia di jajaran elit negara pengembang teknologi pertahanan udara masa depan.




