Skip to content
  • INSIDE INDONESIA
  • AMBARA
  • OASE
  • GET PLANET
  • GET !NSIGHT
  • INSIDE INDONESIA
  • AMBARA
  • OASE
  • GET PLANET
  • GET !NSIGHT
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/NUSANTARA/Nusa Tenggara Barat/Kabupaten Bima/Banjir Bima: Saat Sungai Lebih Tinggi dari Atap Rumah
Kabupaten BimaNusa Tenggara Barat

Banjir Bima: Saat Sungai Lebih Tinggi dari Atap Rumah

By Redaksi GETNEWS.
3 Maret 2026 2 Min Read
0

​BIMA — Di tengah syahdu rangkaian Safari Ramadan di Pulau Sumbawa, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal terpaksa mengganti jubah seremonialnya dengan sepatu bot lapangan. Pada Selasa, 3 Maret 2026, ia berdiri di atas tanah berlumpur Desa Nggembe, Kabupaten Bima, untuk menyaksikan sebuah ironi tata ruang yang selama ini menghantui warga: sebuah pemukiman yang posisinya justru lebih rendah dari dasar sungai.

​Kunjungan ini bukan sekadar ajang bagi-bagi logistik, melainkan sebuah audit lapangan terhadap kegagalan infrastruktur yang berulang kali merendam harapan warga.

​Paradoks Elevasi dan Drainase Mampet

​Berdasarkan tinjauan di Dusun Jala, tim BPBD mengonfirmasi dua dosa besar penyebab banjir bandang kali ini. Pertama, sistem drainase yang lebih mirip pajangan karena tersumbat total, gagal menyalurkan debit air hujan yang kian ekstrem. Kedua, dan yang paling fatal, adalah anomali elevasi: dasar sungai di kawasan tersebut kini lebih tinggi dibandingkan lantai rumah penduduk.

​Dalam logika air, rumah warga Nggembe kini tak ubahnya seperti baskom yang siap menampung luapan sungai setiap kali langit Bima sedang “marah”. Akibatnya, sebanyak 177 rumah terendam air dengan ketinggian hingga 80 sentimeter—cukup untuk melumpuhkan aktivitas 204 Kepala Keluarga (KK).

​Jembatan Putus, Sekolah Terendam

​Dampak banjir kali ini melampaui genangan air di ruang tamu. Satu unit jembatan kabupaten dilaporkan putus, memotong akses urat nadi transportasi warga. Di sektor pendidikan, SDN Inpres Nggembe kembali menjadi korban rutin; sebuah gedung yang seharusnya mencetak masa depan, namun kini lebih sering mencetak genangan lumpur setiap musim hujan tiba.

​”Kita harus memastikan ada solusi permanen agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tegas Gubernur Iqbal di hadapan puing-puing infrastruktur yang rusak.

​

Strategic Audit: Bima Flood Disaster Management (March 2026)

Variabel DampakData & StatusVonis GETNEWS (Audit)
Populasi Terdampak204 KK / 177 Rumah.CRITICAL HUMAN IMPACT
Infrastruktur Vital1 Jembatan Putus & SDN Inpres.LOGISTIC DISRUPTION
Akar MasalahElevasi Sungai > Pemukiman.SPATIAL PLANNING FAILURE

Catatan Akhir: Bukan Sekadar Safari

​Rekomendasi strategis kini telah diletakkan di atas meja: penataan ulang drainase, normalisasi alur sungai, hingga evaluasi total tata ruang. Namun, tantangan sesungguhnya adalah koordinasi lintas hierarki antara Provinsi dan Kabupaten Bima. Selama dasar sungai masih dibiarkan lebih tinggi dari lantai dapur warga, bantuan logistik dan safari Ramadan tahun-tahun mendatang hanya akan menjadi ritual tahunan di atas genangan air yang sama.

​Pemerintah harus segera bertindak sebelum “kekhawatiran setiap musim hujan” menjadi status quo yang permanen bagi masyarakat Nggembe.

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

PMI NTB di Libya: Pemprov Klarifikasi Video Viral, Empat Warga dalam Perlindungan KBRI
Distribute Strategic Insight
WHATSAPP
X-POST
FACEBOOK

Tags:

BimaMIQ IQBALSungai Nggembe
Author

Redaksi GETNEWS.

Follow Me
Other Articles
Previous

Aksi Bima: NTB Tekan Stunting Hingga 13 Persen Lewat Intervensi Mikro

Next

Prabowo Mau Jadi Makelar Damai, Dubes Iran: “Sori, Nggak Terima Tamu Amerika”

No Comment! Be the first one.

    Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Pedoman Siber
    • get privacy
    Copyright 2026 —