
Rumah yang Menjelma Medan Laga
BERAPA HARGA YANG HARUS dibayar seorang perempuan ketika tindakan membela diri dari kekerasan seksual justru berbuah amnesia massal dari lingkungan sekitarnya? Dalam karya terbarunya, Empat Musim Pertiwi (2026), sutradara Kamila Andini menolak memberikan jawaban yang manis. Ia menyajikannya sebagai pertarungan batin yang dingin, puitis, namun tajam menghujam.
Trauma yang Menjadi Tubuh
Kamila Andini menolak narasi “korban bangkit” yang heroik ala formula Hollywood. Pertiwi (Putri Marino) pulang ke lereng Gunung Bromo setelah dua dekade mendekam di penjara akibat membunuh pria yang mencoba memperkosanya. Namun, kepulangannya bukan awal dari pemulihan; itu adalah awal pertarungan baru menghadapi struktur desa yang dilindungi oleh budaya diam.
Kekerasan seksual dalam film ini dibedah bukan sekadar peristiwa individual, melainkan dosa sistemik. Keluarga, tokoh adat, dan lingkungan sosial bahu-membahu menjaga kenyamanan pelaku lama, sementara korban dihukum dua kali: pertama oleh kekerasan itu sendiri, kedua oleh stigma masyarakat.
Realisme Magis dan Lanskap Bromo
Elemen “monster” yang hadir di antara hamparan kabut Bromo bukan sekadar gimmick horor. Kamila memanfaatkan realisme magis sebagai metafora visual trauma—sesuatu yang hanya bisa dirasakan dan dilihat oleh sesama penyintas. Ini adalah keputusan penyutradaraan yang bernas: menolak eksploitasi visual atas kekerasan fisik, namun tetap menghadirkan rasa sakitnya secara nyata.
Sinematografi tangkapan Batara Goempar menjadikan lanskap Gunung Bromo sebagai karakter tersendiri. Padang rumput yang indah sekaligus dingin mencerminkan kondisi batin Pertiwi. Tajuk Empat Musim merujuk pada fase psikologis perempuan, sebuah kontras berani mengingat Indonesia secara geografis tak mengenal empat musim.
Penampilan Cast yang Mengunci Emosi
Putri Marino tampil luar biasa dengan menahan emosi secara presisi. Ia tidak memamerkan histerianya, melainkan menyimpan rapat luka batin yang membuatnya tak lagi takut mati. Christine Hakim (Mak Ira) memberi bobot gravitas sebagai figur perempuan tersisih, sedangkan Arya Saloka (Bisma) menghadirkan kompleksitas rasa bersalah dari masa lalu.
Meski demikian, pacing film yang merayap di beberapa segmen serta metafora puitis yang padat membutuhkan kesabaran ekstra dari penonton.
Empat Musim Pertiwi adalah karya paling gelap sekaligus paling ambisius dari Kamila Andini. Film ini tidak dirancang untuk sekadar “dinikmati”, melainkan untuk dihadapi.
Rekomendasi & Catatan Layar
Rekomendasi GetNews: Wajib ditonton bagi penikmat sinema yang mendalam dan relevan dengan diskursus sosial masa kini. Cocok sebagai pemantik diskusi publik mengenai hak-hak penyintas kekerasan seksual.
Peringatan Pemicu (Trigger Warning): Mengandung pembahasan kekerasan seksual, trauma psikologis, dan kekerasan sistemik.
Foto: Ig @kamilandini