
Bo’ Sangaji Kai Diakui UNESCO, Gubernur Iqbal Dorong Pengintegrasian ke Kurikulum Pendidikan
MATARAM — Warisan intelektual abad ke-17 hingga ke-19 dari Kesultanan Bima, naskah kuno Bo’ Sangaji Kai, secara resmi meraih pengakuan internasional dengan ditetapkan masuk ke dalam Register Regional Memory of the World Asia-Pasifik (MOWCAP) UNESCO Tahun 2026.
Naskah kuno berharga ini tidak sekadar merekam catatan administrasi pemerintahan kesultanan di masa lampau, melainkan juga menyimpan khazanah pengetahuan bersejarah. Di dalamnya terangkum rekam jejak diplomasi regional, kesaksian sejarah letusan dahsyat Gunung Tambora pada tahun 1815, hingga sistem kepemimpinan dan tata hukum progresif yang menjamin perlindungan bagi perempuan pada eranya.
Menyambut penetapan bersejarah tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal (Miq Iqbal), mendorong pengalihbahasaan naskah secara komprehensif ke dalam bahasa Indonesia agar dapat diintegrasikan sebagai materi muatan lokal dalam kurikulum pendidikan, khususnya di kawasan budaya Mbojo.
Audit Strategis: Pengakuan UNESCO & Rencana Pelestarian Naskah Bo’ Sangaji Kai
| Vektor Parameter | Rincian Substantif & Kebijakan Literasi Pemprov NTB |
|---|---|
| Penetapan Internasional | Masuk Register Regional Memory of the World Asia-Pasifik (MOWCAP) UNESCO 2026. |
| Asal Usul & Kurun Waktu | Naskah kuno Kesultanan Bima abad ke-17 hingga ke-19. |
| Isi & Nilai Historis | Catatan administrasi kesultanan, diplomasi regional, saksi letusan Gunung Tambora 1815, serta tata hukum perlindungan perempuan. |
| Arahan Gubernur NTB | Pengalihbahasaan ke Bahasa Indonesia & pengintegrasian ke kurikulum muatan lokal sekolah di wilayah budaya Mbojo. |
*Sumber: Keterangan Resmi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal (Data Diolah per 6 November 2026)
Warisan Diplomasi, Bencana Tambora 1815, dan Perlindungan Perempuan
Naskah Bo’ Sangaji Kai merupakan bukti otentik tingginya peradaban pemikiran dan tata kelola pemerintahan di wilayah Kesultanan Bima pada era lampau. Dokumen ini menyimpan peristiwa geopolitik penting serta dampak keikutsertaan kesultanan dalam diplomasi antarwilayah di Nusantara.
Salah satu nilai histori berharga dalam naskah tersebut adalah kesaksian langsung atas dahsyatnya letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 yang memengaruhi iklim dunia. Selain itu, naskah ini juga memuat klausul kepemimpinan dan hukum adat berkeadilan yang secara spesifik memberikan perlindungan hukum serta penghormatan tinggi terhadap posisi perempuan.
Pengalihbahasaan Naskah demi Edukasi Generasi Muda NTB
Gubernur Miq Iqbal menegaskan bahwa pengakuan dari lembaga dunia seperti UNESCO harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata agar nilai-nilai intelektual lokal tersebut dapat dipahami oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda di NTB.
”Kita ingin NTB mendunia bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kekayaan sejarah, budaya, dan pengetahuan yang kita miliki,” tegas Gubernur Iqbal.
Melalui program alih bahasa dan penyusunan materi muatan lokal di kawasan budaya Mbojo (Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu), Pemprov NTB berharap naskah Bo’ Sangaji Kai tidak sekadar mengendap sebagai artefak museum, melainkan bertransformasi menjadi sumber inspirasi ilmiah dan karakter bagi siswa di sekolah.