BEDAH BUKU

Iblis Tidak Pernah Mati: Mutasi Genetik Otoritarianisme di Rahim Demokrasi

Iblis Tak Pernah Mati - Seno Gumira Ajidarma (BEDAH BUKU GETNEWS/istimewa)

Ketika jurnalistik bungkam, sastra harus bicara.” Mantra legendaris Seno Gumira Ajidarma kembali bergema dengan daya ledak yang lebih dingin melalui novel politiknya, Iblis Tidak Pernah Mati. Jika dalam era Orde Baru Seno menyerang represi militeristik secara frontal, dalam karya ini ia membedah musuh yang jauh lebih licik: sebuah sistem di mana kekerasan negara tidak lagi datang dalam bentuk sepatu lars dan senapan di jalanan, melainkan lewat represi digital, manipulasi algoritma, dan propaganda yang dikemas ramah.

​Seno menegaskan bahwa “Iblis” dalam politik bukanlah personalitas seorang diktator, melainkan sebuah mekanisme kekuasaan. Ia adalah hasrat untuk mengontrol, membungkam, dan menertibkan pikiran publik. Dan celakanya, iblis itu tidak pernah mati; ia hanya berganti baju setiap kali pemilu usai.

The Architect of Dissent

https://getnews.co.id/wp-content/uploads/2026/06/Seno-Gumira-Ajidarma-di-UAD.jpg

Seno Gumira Ajidarma

Sastrawan, akademisi, dan mantan jurnalis legendaris Indonesia. Terkenal karena keberaniannya melaporkan Tragedi Santa Cruz Dili lewat fiksi. Karyanya selalu konsisten membedah moralitas kekuasaan, trauma sejarah, dan hak-hak kemanusiaan yang ditindas oleh birokrasi besi.

Sinopsis: Aparat Lama dalam Skenario Baru

​Alur cerita novel ini bergerak di antara dua era: remang-remang masa lalu pasca-reformasi dan terang benderangnya era digital post-truth saat ini. Seno mempertemukan kita dengan para aktor lama—mantan intelijen, eksekutor lapangan, dan arsitek propaganda—yang kini tidak lagi bersembunyi di bunker militer, melainkan duduk manis di ruang ber-AC sebagai konsultan media sosial dan penasihat strategis pemerintah.

​Melalui narasi yang satir dan penuh alegori khas Seno, kita diperlihatkan bagaimana “pabrik ketakutan” dimodifikasi. Jika dulu negara membungkam kritik dengan cara menghilangkan orang, kini mereka menggunakan metode cyber-lynching (pembunuhan karakter lewat bot siber), kriminalisasi menggunakan pasal-pasal karet, serta pengalihan isu massal menggunakan hiburan banalis. Tokoh-tokoh di dalam novel ini sadar betul bahwa rakyat tidak perlu dipukul hingga diam; mereka cukup diberi “mainan baru” agar lupa pada hak-haknya yang dijarah.

“Rezim bisa runtuh, undang-undang bisa diganti, dan presiden bisa turun takhta. Namun iblis kekuasaan selalu menemukan rahim baru untuk lahir kembali, sering kali dalam bentuk senyuman yang paling kita puja.”

Explore Indonesia Insights: Political Fiction & Autocracy →

Audit Strategis: Metamorfosis Alat Represi Negara

​Analisis strategis ini membedah pilar-pilar kekuasaan dalam novel Seno yang merefleksikan realitas politik kontemporer di Indonesia.

Strategic Audit: The Mechanisms of Opressive Power

Dimensi RepresiManifestasi Naratif (Novel)Vonis GETNEWS (Audit)
Algorithmic PropagandaPenggunaan pasukan siber untuk menenggelamkan kritik substantif masyarakat.TRUTH SUBVERSION
Legal WeaponizationPemanfaatan regulasi karet untuk menertibkan individu yang vokal.SYSTEMIC SILENCING
Historical AmnesiaRekalibrasi ingatan publik agar memaafkan dosa masa lalu penguasa.MEMORY CONTROL

Vonis GetNews:

​Membaca Iblis Tidak Pernah Mati adalah sebuah tamparan keras bagi kenaifan kita yang mengira bahwa Reformasi telah menyelesaikan segalanya. Seno Gumira Ajidarma dengan sangat brilian menelanjangi bahwa ketika instrumen totalitarianisme kawin silang dengan teknologi digital, tirani yang lahir jauh lebih kokoh dan sulit diruntuhkan karena ia bekerja dengan cara menghibur korbannya. Novel ini adalah bacaan wajib, pelindung nalar dari kabut post-truth yang sengaja ditiupkan oleh para elite. Sante, Lur! Lawan iblis itu bukan dengan kemarahan buta, tapi dengan ingatan yang menolak lupa.

Skor GETNEWS: 9.0 / 10

Panduan Pembaca & Kurasi Editorial

Rekomendasi:

  • Wajib dibaca bagi pegawai negeri, mahasiswa hukum, aktivis anti-kekuasaan, dan siapa saja yang masih percaya pada demokrasi yang jujur.
  • Sangat cocok untuk diskusi kelompok atau bahan kajian sastra politik dan komunikasi siber.
  • Cocok untuk pembaca yang suka novel dengan kritik sosial dan struktural yang kuat.

Siapa yang harus membaca?

  • ​Setiap orang yang ingin memahami mengapa sulit sekali memberantas mentalitas otoriter di Indonesia. Karena seperti yang digambarkan Seno: represi negara bukan lagi soal baris-berbaris tentara, melainkan tentang bagaimana pikiran kita dijajah secara sukarela oleh hiburan dan algoritma.

Catatan: Novel ini mengandung deskripsi tentang taktik propaganda, manipulasi siber, dan intimidasi psikologis yang berat. Pembaca disarankan mempersiapkan kesiapan mental.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *