Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menerima audiensi Wali Kota Bima H. A. Rahman, di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Jumat (9/1/2025). (EKRAF/GETNEWS)

JAKARTA, getnews.co.id — Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, secara resmi menerima audiensi Wali Kota Bima, H. A. Rahman, guna membahas percepatan penetapan Kota Bima sebagai Kota Kreatif nasional. Pemerintah pusat berkomitmen menjadikan ekonomi kreatif (Ekraf) sebagai mesin pertumbuhan baru yang dimulai dari identitas budaya daerah.

​Dalam pertemuan yang berlangsung di Jakarta tersebut, Menteri Teuku Riefky menekankan pentingnya verifikasi subsektor unggulan sebagai lokomotif penggerak ekonomi. Kota Bima dinilai memiliki modalitas kuat dengan perpaduan antara kearifan lokal tenun ikat dan antusiasme generasi muda di dunia digital.

Profil Potensi Ekraf: Kota Bima (Update 2026)

​Pemerintah Kota Bima telah memetakan aset kreatif yang akan menjadi dasar verifikasi Kementerian Ekraf.

Creative City Index: Bima Strategic Assets
Subsektor UnggulanSkala & Dampak Ekonomi
Tenun Ikat Khas Bima1.500 Unit Usaha (Identitas Budaya Utama).
Konten Kreator Digital500 – 1.500 Orang (Agen Digital Storytelling).
Ekosistem PenunjangKuliner, Fesyen, Musik, Seni Pertunjukan, & Fotografi.
Fokus KemenekrafHAKI, Akses Pembiayaan, & Perluasan Pasar Global.
Sumber: Audiensi Wali Kota Bima & Kemenekraf RI | Jan 2026

Digital Storytelling: Kekuatan Baru Generasi Muda Bima

​Wali Kota Bima, H. A. Rahman, menyoroti peran strategis ribuan konten kreator lokal sebagai agen promosi daerah. Dengan populasi 165 ribu jiwa yang sangat aktif di media sosial, Bima memiliki potensi pasar digital yang masif. “Konten kreator menjadi peluang baru bagi generasi muda untuk memperoleh pendapatan sekaligus mempromosikan Kota Bima secara digital,” ungkap Wali Kota.

Target: Verifikasi dan Regulasi Menteri

​Menteri Teuku Riefky menyatakan bahwa ke depan, penetapan Kota Kreatif akan diperkuat melalui Peraturan Menteri. Langkah ini mencakup perlindungan Kekayaan Intelektual (HAKI) bagi para pengrajin tenun dan pelaku digital agar karya mereka memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan terlindungi secara hukum. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan mampu membawa produk kreatif Bima menembus pasar internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *