Ketika Anomali Cuaca Mengubah Laut Menjadi Arena Taruhan: Ironi Nelayan Kota yang Terjebak Antara Omzet dan Keselamatan.
Mataram punya segalanya: city walk yang cantik, cafe yang Instagrammable, taman hiburan rakyat dan pantai yang membentang hampir 9 kilometer. Namun, di balik pemandangan senja yang eksotis, ada satu kelompok yang kini hidup dalam suspense harian yang lebih dramatis daripada sinetron: Nelayan Tradisional. Mereka kini harus menjadi “peramal cuaca” dadakan. Kenapa? Karena ramalan BMKG saja terasa kurang meyakinkan menghadapi hidrometeorologi yang sedang ‘mengganggu’ rezeki mereka di pesisir.
Cuaca Ekstrem: Taruhan Dapur versus Nyawa
Ketidakpastian cuaca ekstrem memaksa nelayan Mataram menghadapi dilema pahit: Melaut berarti mempertaruhkan keselamatan, tetapi tidak melaut berarti mempertaruhkan dapur keluarga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram rutin mengingatkan nelayan agar lebih waspada terhadap potensi gelombang tinggi hingga 2,5 meter (https://bpbd.mataramkota.go.id/berita/waspada-gelombang-tinggi-bpbd-mataram-imbau-nelayan-berhati-hati).
- ”Dulu taruhan kami hanya soal dapat ikan banyak atau sedikit. Sekarang, taruhan kami adalah percaya pada aplikasi cuaca di HP atau ombak yang di depan mata,” ujar salah seorang nelayan di kawasan Ampenan yang sering terimbas.
Dilema Pantai 9 KM dan Komitmen Pemkot
Meskipun Mataram adalah kota pesisir, perhatian pembangunan seringkali jatuh pada estetika pariwisata. Saat hidrometeorologi menyerang, perahu-perahu kecil mereka rentan rusak karena tidak ada tempat berlindung yang memadai.
- Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, menegaskan bahwa bantuan paket sembako yang diberikan merupakan “bentuk perhatian dan kepedulian terhadap masyarakat yang terkena dampak bencana alam” (https://ntbpos.com/2024/12/bantuan-sembako-pemkot-mataram-untuk-nelayan/).
- Meskipun bantuan logistik disalurkan, masalah fundamental berupa kurangnya tempat sandar perahu yang memadai di pesisir Sekarbela, Ampenan masih menjadi PR besar, menambah kerugian akibat kerusakan aset.
Harapan Rp 22 Miliar: Proyek Kampung Nelayan Terintegrasi
Ironi terakhir: Saat ini, di tengah kelangkaan pasokan akibat cuaca buruk, harga ikan laut segar di pasar Mataram melonjak tajam. Data menunjukkan bahwa fluktuasi harga ikan dapat mencapai 30% hingga 50% saat terjadi gelombang tinggi (https://bisnis.tempo.co/read/1897486/cuaca-buruk-harga-ikan-di-lombok-naik-hingga-50-persen).
- Solusi Jangka Panjang: Harapan terbesar datang dari Pemerintah Pusat. Program Kampung Nelayan Terintegrasi Bintaro senilai Rp 22 Miliar (https://lombokpost.jawapos.com/mataram/29082024/mataram-bakal-punya-kampung-nelayan-terintegrasi-di-bintaro/) berfokus pada pembangunan hunian, TPI modern, cold storage, dan lokasi penambatan perahu yang aman. Jika terlaksana, proyek ini bisa menjadi jaring pengaman ekonomi terkuat bagi nelayan Mataram dari ancaman krisis iklim.
Sudahkah Mataram memprioritaskan nelayan di 9 KM pantainya? Apa solusi terbaik untuk nelayan harian di tengah krisis cuaca? Beri pendapat Anda di kolom komentar!



