MATARAM — Selama bertahun-tahun, TPA Regional Kebon Kongok bukan sekadar tempat pembuangan, melainkan monumen kegagalan koordinasi antar-daerah. Namun, rapat koordinasi yang dipimpin Gubernur Lalu Muhamad Iqbal bersama pimpinan Mataram dan Lombok Barat pada Rabu (21/01/2026) menandai lahirnya era baru: Diplomasi Fiskal Persampahan.
Analisis: Berakhirnya Era ‘Gali-Tutup’
Keputusan memperluas landfill hanyalah sebuah “nafas buatan” untuk mencegah darurat sampah dalam dua tahun ke depan. Namun, inti dari analisis Getnews terletak pada keberanian Gubernur Iqbal untuk mengunci target Waste to Energy (WTE). Ini adalah pertaruhan teknokratis yang besar; mengubah TPA menjadi pabrik energi berarti NTB mulai mengadopsi standar kota-kota global seperti Singapura atau Tokyo.
Diplomasi Kebon Kongok ini berhasil karena Gubernur tidak hanya memberi instruksi, tapi juga memimpin pembebasan lahan sebagai stimulan fiskal. Mataram dan Lombok Barat tidak lagi bisa saling tunjuk, karena beban anggaran telah dipatok secara presisi.
Menuju Comeback Factor
Gubernur menekankan pentingnya comeback factor—teknologi yang mampu memproduksi kembali energi tanpa sisa sisa deduksi. Jika ini terealisasi, maka APBD tidak akan lagi “dibuang” ke lubang sampah, melainkan diinvestasikan ke infrastruktur energi terbarukan. Pertanyaannya kini: seberapa cepat birokrasi di kementerian pusat menyelaraskan regulasi agar investasi swasta yang sudah mengantre bisa segera melakukan groundbreaking?

“Masalah sampah adalah cermin dari cara kita mengelola masa depan. Memilih teknologi di atas sekadar menimbun lahan adalah tanda kematangan sebuah pemerintahan.”
Dogma Digital — Diplomasi Kebon Kongok adalah bukti bahwa koordinasi lintas daerah bisa dicapai jika ada ketegasan di meja perundingan. Getnews memandang perluasan lahan hanyalah jembatan menuju industrialisasi sampah. Kita sedang menyaksikan transisi dari NTB yang ‘membersihkan diri’ menjadi NTB yang ‘memberdayakan diri’. Jika skema WTE ini berjalan, Kebon Kongok tidak akan lagi menjadi nama yang dihindari, melainkan pusat inovasi energi yang membanggakan di Pulau Lombok.




