JAKARTA — Eskalasi ketegangan politik pasca-kunjungan diplomatik maraton Kepala Negara ke sejumlah ibu kota dunia mulai merembet ke ranah domestik. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Habiburokhman, melayangkan kritik balik yang menohok terhadap mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu), Dino Patti Djalal, yang sebelumnya menyoroti dan mempertanyakan tingginya frekuensi lawatan luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Habiburokhman mendesak Dino Patti Djalal untuk tetap mengedepankan etika politik serta tata krama korps sesama tokoh yang pernah dan sedang berada di dalam lingkar birokrasi pemerintahan. Gerindra meminta mantan diplomat senior tersebut memberikan ruang gerak serta kesempatan yang adil bagi para pejabat aktif saat ini untuk membuktikan performa kerja nyata mereka tanpa perlu diganggu oleh kebisingan opini.
”Menurut saya, ada etika di kalangan orang yang pernah menjabat. Artinya, memberikan kesempatan kepada orang yang saat ini menjabat untuk bekerja,” tegas Habiburokhman saat memberikan taklimat politik di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.
Sindir Etika Komunikasi Mantan Pejabat
Lebih lanjut, pimpinan komisi hukum DPR RI ini menilai bahwa seorang mantan pejabat tinggi negara seharusnya menaruh rasa hormat kepada para pemegang amanah konstitusi yang sedang berjalan. Kritik terbuka yang dilontarkan di ruang publik dinilai kurang pas serta berpotensi mengaburkan esensi diplomasi ekonomi yang tengah diperjuangkan pemerintah.
Guna memperkuat argumentasinya, Habiburokhman menyodorkan analogi komparatif mengenai konvensi etika politik tidak tertulis yang jamak dipraktikkan di negara-negara demokrasi maju. Ia mencontohkan bagaimana suksesi kepemimpinan di Amerika Serikat berjalan dengan saling menghormati, di mana mantan Presiden George W. Bush secara historis tidak pernah mengkritik kebijakan suksesornya, Barack Obama, secara vulgar di hadapan media.
”Jadi model komunikasi seperti yang dipertontonkan oleh Pak Dino menurut saya kurang pas. Jangan memancing publik untuk membanding-bandingkan, kan susah kalau dibanding-bandingkan,” pungkas Habiburokhman menyindir manuver eks Wamenlu tersebut.
Langkah pembelaan agresif dari internal Gerindra ini mengindikasikan bahwa barisan partai pengusung pemerintah tidak akan tinggal diam terhadap setiap upaya devaluasi politis atas agenda international relations yang sedang dipacu oleh Presiden Prabowo Subianto di awal masa jabatannya.




