BULELENG – Desa Adat Banyuasri kini tengah memetakan masa depan pesisirnya melalui paradigma baru: pariwisata berbasis konservasi. Dalam pertemuan strategis krama dan prajuru di Pantai Camplung, Sabtu (2/5), desa adat di pesisir utara Bali ini resmi mendorong rencana pengembangan konservasi tukik (anak penyu) sebagai instrumen utama pelestarian sekaligus diversifikasi ekonomi lokal.
Kawasan Pantai Pidada, Pantai Camplung, hingga Pantai Indah diidentifikasi sebagai koridor krusial bagi migrasi penyu hijau di Bali Utara. Namun, selama ini potensi tersebut belum terkelola secara terstruktur. Pegiat konservasi, Adhy Simatupang, menekankan bahwa ketergantungan Buleleng pada model pariwisata bahari konvensional harus segera diimbangi dengan destinasi berkelanjutan guna menjaga daya dukung lingkungan.
Gagasan ini tidak hanya berhenti pada penyu. Rencana besar Desa Adat Banyuasri mencakup integrasi ekowisata bahari yang meliputi dolphin seeing, kano, hingga wisata religi. Kelian Desa Adat Banyuasri, Mangku Nyoman Widiasa, memberikan lampu hijau dengan catatan tegas: seluruh operasional harus melalui persetujuan krama dalam paruman desa guna menjamin pengelolaan berbasis komunitas yang bebas dari eksploitasi berlebihan.
Bagi GET PLANET, langkah Banyuasri adalah bentuk nyata dari penguatan kedaulatan adat atas ruang hidup. Di saat banyak pesisir Bali terjebak dalam komersialisasi massal, Banyuasri memilih jalan konservasi sebagai “nilai jual” utama. Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada sinkronisasi antara regulasi adat (Awig-Awik) dengan standar konservasi kelautan internasional, guna memastikan Pantai Banyuasri menjadi rumah yang aman bagi penyu hijau dan sumber penghidupan yang bermartabat bagi warganya.
Verified Source: InfoPublik.id
BACA JUGA:
Rinjani Bukan Bukit Teletubbies: Gubernur Iqbal dan Strategi Menyingkirkan Pendaki “Low Budget”BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Bedah Mendalam “It Was Just an Accident” (2025) – Jafar Panahi



