MATARAM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) memastikan keberlanjutan status internasional UNESCO Global Geoparks (UGGp) bagi Rinjani-Lombok setelah resmi menerima Kartu Hijau (Green Card). Predikat ini merupakan hasil dari proses revalidasi ketat yang dilakukan oleh asesor UNESCO, yang menegaskan bahwa tata kelola warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan keragaman budaya di kawasan tersebut tetap memenuhi standar keunggulan global.
Kartu Hijau bukan sekadar sertifikat apresiasi, melainkan mandat untuk memperpanjang masa keanggotaan dalam jejaring Geopark Global selama empat tahun ke depan. Keberhasilan ini menjadi oase di tengah tantangan degradasi hutan dan tekanan pariwisata masif yang membayangi kawasan Rinjani. UNESCO menilai Pemprov NTB berhasil mengintegrasikan aspek konservasi dengan pemberdayaan ekonomi lokal melalui skema ekowisata yang berkelanjutan.
Namun, validasi ini juga membawa catatan kritis. UNESCO menekankan pentingnya peningkatan visibilitas, penguatan edukasi mitigasi bencana geologi, serta pemantauan ketat terhadap integritas jalur pendakian dan situs-situs warisan geologi (geosites) dari ancaman sampah dan aktivitas ilegal.
Penerimaan Kartu Hijau ini memposisikan Rinjani-Lombok sebagai instrumen diplomasi lingkungan NTB di mata dunia. Bagi GET PLANET, pencapaian ini membuktikan bahwa perlindungan ekosistem yang ketat merupakan investasi jangka panjang yang mampu menghasilkan devisa pariwisata tanpa harus mengorbankan integritas alam. Langkah selanjutnya bagi pengelola adalah memastikan “Kartu Hijau” ini dirasakan dampaknya oleh masyarakat lingkar Rinjani melalui distribusi ekonomi yang lebih merata.




