DUNIA DIPLOMASI kita ini memang gudangnya komedi. Baru saja Dewan Keamanan PBB resmi mengadopsi resolusi buat mengecam serangan Iran ke negara Teluk dan Yordania. Pesannya ngeri-ngeri sedap: Teheran disuruh berhenti sekarang juga, kalau nggak mau dikasih kartu merah oleh komunitas internasional. Pokoknya, Iran dianggap sebagai “anak nakal” yang kalau melempar mercon ke rumah tetangga langsung dilaporkan ke pak RT (PBB).
Tapi, di sinilah letak puncak komedinya. Saat rudal-rudal Amerika dan Israel asyik “berwisata” ke wilayah kedaulatan Iran, PBB mendadak kena penyakit amnesia massal. Tidak ada resolusi yang bunyinya segarang itu, tidak ada desakan gencatan senjata yang sifatnya memaksa, apalagi sanksi. Sepertinya, dalam buku panduan PBB, bom yang jatuh dari pesawat Barat itu aromanya wangi perdamaian, sementara rudal dari Teheran itu bau belerang yang merusak estetika dunia.
Kita harus angkat topi pada kemampuan PBB dalam menjaga perasaan. Mereka seolah sedang menerapkan aturan main: “Kamu boleh mukul, asal kamu sohibnya pengurus.” Bagi Iran, resolusi ini mungkin cuma dianggap sebagai tumpukan kertas buat bungkus kacang, apalagi setelah mereka berhasil bikin rongsokan THAAD di Yordania. Kalau standar keadilan global masih mengandalkan sistem “liat-liat teman” seperti ini, mending sidang PBB dipindah saja ke panggung Stand-Up Comedy. Lebih jujur lucunya, dan kita nggak perlu pura-pura serius dengerin soal “hukum internasional”.
“Keadilan internasional itu ibarat menu restoran mahal: harganya selangit, tapi cuma bisa dinikmati sama yang punya kartu member VIP. Kalau kamu cuma tamu biasa kayak Iran, ya siap-siap aja dapet bon tagihan atas kesalahan yang orang lain juga lakuin.”— AMBARA SATIRE INDEX
BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:
Trump Nyetir Amerika, Tapi Rem dan Gasnya Dipegang Netanyahu?



