LITERASI ANOMALI

Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai – Bagian 29

Tan Malaka, insert: Emha Firmansyah (GETNEWS./Literasi Anomali/istimewa)

Oleh: M Hero Firmansyah

Kelas Bawah Tanah

​Sel isolasi itu sempit, beraroma pekat amonia dan diterangi lampu pijar yang berkedip konstan. Rian duduk bersila di lantai beton, memindai coretan keputusasaan di dinding sel. Tiga hari mendekam di balik jeruji, dunia luar mendadak terasa seperti lelucon yang buruk.

​Televisi di lorong blok—yang hanya menyala satu jam per hari—terus memuntahkan narasi resmi: “Aparatus keamanan berhasil melumpuhkan aktor utama diseminasi data kelompok anti-pembangunan. Gerakan klandestin ini terindikasi menerima dana asing.”

​Namun, di balik tembok beton, sebuah pergeseran aneh terjadi.

​Para narapidana—pencuri, preman pasar, hingga mantan dukun pengganda uang—mulai bergeser mendekati sel Rian. Pada malam pertama, seorang pria bertato naga membisikkan sesuatu: “Bung, kertas fotokopi yang kau sebar itu sampai ke pemukiman saya. Istri saya membedahnya, dan kemarin dia marah besar. Dia bilang, selama ini saya malas karena rasiologi saya dijajah takhayul bernama ‘nasib’. Sekarang, dia menuntut saya buka warung kelontong kalau saya bebas nanti. Ini gila.”

​Memasuki hari ketiga, sel Rian berubah menjadi ruang kelas bawah tanah. Setiap malam, setelah lampu blok dipadamkan, mereka berkumpul di koridor jeruji. Rian membedah tesis materialisme dengan bahasa yang membumi.

​“Masalahnya bukan seberapa banyak uang di kantong kalian,” ujar Rian. “Tapi siapa yang memegang alat produksi. Selama rasiomu menyerah dan hanya mengandalkan otot serta keringat, kau akan selalu dikunci sebagai sapi perah sistem.”

​Seorang mantan kepala urusan keuangan desa yang dipenjara karena korupsi kecil tertawa getir. “Saya dipenjara karena korupsi dua ratus juta. Sementara bos birokrasi di atas sana melikuidasi anggaran miliaran, tapi tetap duduk manis di kursi dinas. Apakah ketimpangan ini yang kalian sebut dialektika?”

​Spora Fotokopi

​Di luar tembok, situasi bergerak liar. Ribuan lembar fotokopi Madilog telah menyebar ke ceruk pemukiman paling terpencil. Di pasar, ibu-ibu membedah teks tersebut di antara timbangan cabai. Di barak buruh, para pekerja meresapi kalimat Tan Malaka sembari menyesap kopi hitam. Bahkan di kantor pemerintahan, beberapa ASN muda menyelipkan kertas fotokopi itu di balik berkas dinas dengan catatan kecil: “Bedah jika rasiomu punya keberanian.”

​Otoritas didera kepanikan. Mereka menggelar “Operasi Sterilisasi Kertas”. Namun, semakin masif kertas yang dibakar, semakin cepat salinan baru muncul di tempat lain—tumbuh laksana spora jamur di musim hujan.

​Pak Gatot, yang lolos dari kepungan, mengirim pesan terenkripsi melalui pengacara: “Pergerakan ini di luar kendali. Bahkan istri bupati wilayah selatan mulai melayangkan interupsi terhadap kebijakan suaminya. Ini adalah kegilaan rasio yang indah.”

​Madu dari Rahim Sistem

​Malam merayap. Siluet Tan Malaka muncul kembali, duduk bersila di hadapan Rian dengan ekspresi jenaka.

​“Penjara lagi,” buka Tan Malaka terkekeh. “Riwayat hidupku dulu habis di balik jeruji kolonial. Tampaknya, ruang isolasi ini sudah menjadi warisan keluarga bagi silsilah Madilog.”

​Rian tersenyum lelah. “Saya tidak menduga variabel ini. Saat raga saya diisolasi, esensi pemikiran ini justru menikmati kebebasan mutlak di luar. Mereka mengira jeruji bisa membungkam fakta, padahal penjara justru menjadi pengeras suara.”

​Tan Malaka melipat tangan di dada transparannya. “Doktrin mereka selalu takut pada satu hal: isi kepala yang telah bebas dari takhayul sosial. Mereka bisa mengurung sel biologismu, Rian, tapi mereka tidak punya barikade cukup untuk menangkap ide yang sudah menyebar laksana spora.”

​Sorot mata sang pemikir berubah tajam. “Tapi pasang sabuk pengaman. Otoritas segera menyiapkan modul baru. Mereka akan menghentikan kekerasan fisik. Sebagai gantinya, mereka akan menyodorkan skema ‘rekonsiliasi’, ‘rehabilitasi nama baik’, hingga kursi empuk di kabinet. Itulah racun paling mematikan: menjinakkan musuh dengan membelinya secara legal.”

​Tan mulai larut ke dalam dinding beton, menyisakan bisikan terakhir:

​“Fajar esok, akan ada satu pasang kaki melangkah ke meja kunjungan. Dia bukan kawan, bukan lawan. Dia adalah variabel anomali yang bisa merombak seluruh konfigurasi permainan. Buka matamu lebar-lebar.”

​Rian menatap jeruji besi. Ketukan sepatu sipir terdengar berirama, namun di dalam kesadarannya, kalkulasi dingin telah dirumuskan. Ia siap menolak setiap sendok madu yang akan disodorkan sistem.

(Bersambung)


Catatan Redaksi / Disclaimer:

Seluruh rangkaian narasi dalam serial “Madilog: Petualangan Pikiran yang Belum Selesai” ini merupakan karya fiksi spekulatif yang diinspirasikan dari traktat filsafat ekonomi-politik dalam buku MADILOG karya Tan Malaka.

Garis alur, karakterisasi tokoh (termasuk visualisasi tokoh sejarah), dinamika institusi, waktu, serta koordinat peristiwa yang digambarkan dalam teks ini sepenuhnya adalah rekaan kreatif penulis untuk kolom Literasi Anomali. Jika terdapat kesamaan nama tokoh, tempat kejadian, maupun konformitas situasi linier dengan realitas aktual dalam industri tambang nikel atau kebijakan birokrasi, hal tersebut merupakan kebetulan matematis dan tidak merepresentasikan kebijakan resmi dari institusi mana pun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *