LOMBOK BARAT — Pola pembinaan narapidana di pulau siber dan pariwisata Lombok kini menjelma menjadi motor penggerak ekonomi riil yang produktif. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lombok Barat Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) membuktikan keberhasilan program tersebut lewat eksekusi panen perdana komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi, edamame, pada Rabu, 3 Juni 2026.
Langkah ini bertindak sebagai bukti empiris bahwa program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tidak mandek di tataran teoritis belaka, melainkan mampu mengonversi lahan tidur penjara menjadi klaster pangan yang subur. Ritus panen ini sekaligus ditargetkan guna mengunci implementasi akselerasi dari 15 Program Aksi Kemenimipas, khususnya dalam menjaga ketahanan pangan nasional dari tingkat hulu.
Prosesi pemetikan polong hijau asal Jepang ini dieksekusi secara berkala dengan menerjunkan puluhan warga binaan yang telah lulus kualifikasi program pembinaan kerja spesialisasi pertanian. Mengoptimalkan pemanfaatan aset lahan asimilasi seluas 0,9 hektare, manajemen Lapas Lombok Barat memproyeksikan akumulasi hasil panen agregat mampu menyentuh angka optimis antara 2 hingga 3 ton edamame segar.
Kepala Sub Seksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja (Bimker dan PHK) Lapas Kelas IIA Lombok Barat, I Putu Ganesha, memaparkan bahwa pemilihan komoditas edamame didasarkan pada tingginya penyerapan pasar modern serta peluang usaha mandiri yang menjanjikan bagi para WBP pasca-bebas kelak.
“Lahan edamame yang kami kelola memiliki luas sekitar 0,9 hektare. Panen dilakukan secara bertahap karena tingkat kematangan tanaman berbeda-beda. Untuk keseluruhan lahan, kami menargetkan hasil panen berkisar antara 2 hingga 3 ton,” urai I Putu Ganesha membedah kalkulasi produktivitas lahan lapas.
Ganesha merinci, arsitektur budidaya pertanian ini dilakukan secara mandiri oleh warga binaan dengan supervisi ketat dari petugas lapas, mulai dari fase pengolahan tanah (land preparation), penanaman benih, perawatan vegetatif, hingga fase pemetikan produksi hulu.
Buka Kran Kemitraan Agribisnis Bersama Pihak Ketiga
Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat, M. Fadli, menegaskan bahwa kesuksesan panen raya perdana ini merupakan indikator sahih (valid indicator) atas keberhasilan transformasi internal lapas dari lembaga pemenjaraan konvensional menuju institusi pemulihan sosial ekonomi yang kompetitif.
“Panen ini menunjukkan bahwa pembinaan yang kami laksanakan berjalan secara nyata dan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Ini juga menjadi bukti dukungan Lapas Lombok Barat terhadap 15 Program Aksi Kemenimipas melalui pengembangan sektor pertanian dan ketahanan pangan,” tegas Kalapas M. Fadli.
Guna mendongkrak nilai tambah (added value) serta memastikan sirkulasi keuntungan finansial bagi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) perpasaran, Fadli menyatakan optimismenya bahwa edamame hasil keringat warga binaan ini memiliki kualifikasi mutu standar swalayan. Oleh karena itu, otoritas lapas secara terbuka mengundang kemitraan strategis korporasi agribisnis dan ritel pihak ketiga untuk membangun rantai pasok terintegrasi. Kolaborasi hilirisasi ini diharapkan mampu mengoptimalkan serapan pasar lokal NTB sehingga program kemandirian WBP dapat berputar secara berkelanjutan.




