OASE – Di dunia keuangan, riba adalah anomali yang terlarang—upaya menarik keuntungan materi di atas beban orang lain. Namun, dalam “ekonomi langit”, ada satu bentuk bunga yang justru diperintahkan: Riba Cinta. Jika dalam finansial kita dilarang mengambil lebih, dalam urusan kasih sayang dan kemuliaan, kita dilarang hanya memberi seadanya.
Landasan Langit: Melampaui Keadilan
Islam mengajarkan bahwa membalas kebaikan dengan kebaikan yang serupa adalah keadilan. Namun, membalas kebaikan dengan yang lebih besar adalah derajat Ihsan (kesempurnaan). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (QS. Al-Isra’: 7)
Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya kemurahan hati yang melampaui batas kewajiban:
“Barangsiapa yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya.” (HR. Abu Dawud)
Metafora Rumi: Cinta sebagai Kekuatan Kosmik
Maulana Jalaluddin Rumi memandang cinta bukan sebagai transaksi ekonomi, melainkan evolusi spiritual. Rumi mengajarkan bahwa jika seseorang memberimu satu cinta, balaslah dengan cinta yang jauh lebih besar. Ini bukan tentang mencari keuntungan, melainkan tentang kemurahan hati (al-karam) yang tak terbatas.
Dalam cinta, memberi lebih banyak daripada yang diterima adalah bentuk kemuliaan tertinggi. Inilah “Riba yang Diridhai”—di mana kita sengaja “melebihkan” pembayaran kasih sayang kita kepada sesama sebagai bentuk syukur atas cinta Tuhan yang tak terbatas kepada kita.
Perbedaan Riba Finansial & Riba Cinta
Untuk memberikan pencerahan lebih dalam, berikut adalah tabel komparasi yang membedah perbedaan antara eksploitasi materi dan kemuliaan hati:
*geser ke kiri
Menjadi Mata Air Cinta
Hari Jumat ini adalah momentum untuk melakukan audit pada “rekening jiwa” kita. Jika seseorang memberimu senyum, balaslah dengan sapaan hangat. Jika seseorang memberimu bantuan kecil, balaslah dengan doa dan dukungan yang jauh lebih besar.
Jangan menjadi “pedagang” dalam hubungan antarmanusia yang hanya menghitung laba-rugi perasaan. Jadilah “penderma” yang percaya bahwa di dalam cinta, memberi lebih banyak daripada yang diterima bukan berarti kita merugi, melainkan menunjukkan betapa luasnya samudera kebaikan yang ada di dalam hati kita.
Sebab, cinta sejati tidak pernah mengenal kata cukup, ia hanya mengenal kata lebih.




