LOMBOK TENGAH – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengeluarkan peringatan keras mengenai korelasi langsung antara kerusakan hulu hutan dengan hancurnya infrastruktur publik di hilir. Dalam kunjungan kerja ke kawasan Benang Kelambu, Rabu (4/3), Gubernur menyoroti bahwa banjir di 14 titik serta kerusakan jalan provinsi di jalur strategis Sekotong hingga Mawun adalah “tagihan alam” atas gundulnya perbukitan di Lombok bagian selatan dan Pulau Sumbawa.
”Jaga hutan seperti menjaga keluargamu sendiri,” tegas Iqbal di hadapan personel KPH Wilayah I. Pernyataan ini bukan sekadar retorika lingkungan, melainkan refleksi atas beban fiskal daerah yang membengkak akibat perbaikan infrastruktur yang terus menerus rusak diterjang banjir bandang dan longsor—dampak nyata dari hilangnya fungsi resapan hutan.
Analisis GetNews menunjukkan bahwa pendekatan koersif terhadap perambah hutan mulai bergeser ke arah persuasif-humanis. Gubernur menginstruksikan Polisi Kehutanan (Polhut) untuk menjadi “sahabat” bagi warga lingkar hutan, sebuah strategi untuk membangun benteng sosial guna menambal keterbatasan jumlah personel pengamanan hutan di lapangan.
Gubernur menyadari bahwa nasib warga di dataran rendah sangat bergantung pada integritas ekosistem di dataran tinggi. Dengan rusaknya hutan di bagian selatan, daya tarik pariwisata premium seperti kawasan Sekotong kini terancam oleh masalah aksesibilitas dan risiko bencana yang menghantui setiap musim penghujan.
BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT:
Simalakama IPR: Fiskal vs Ekologi



