AMBARA

Is Indonesia Otw Bangkrut? Ketika Prabowonomics Disindir Koran Londo dan ‘Londo Ireng’ Jadi Kambing Hitam

KALIMAT SAKTI “Negara kita ini kaya raya, tapi…” mendadak terasa makin renyah di telinga. Sebuah koran ternama asal Negeri Kincir Angin, De Volkskrant, baru saja menerbitkan artikel analisis ekonomi dengan judul yang bikin dahi para menteri mengkerut: “Is Indonesië op weg naar bankroet?” alias Apakah Indonesia Sedang On The Way Bangkrut?.

​Jurnalis Noël van Bemmel lewat artikelnya menelanjangi kondisi dapur ekonomi nasional kita. Mulai dari nilai tukar rupiah yang terus loyo mendekati angka keramat Rp30.000 per dolar AS, mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo dari panggung Senayan, sampai serangkaian mega-proyek ambisius yang dinilai bikin kantong APBN megap-megap. Tapi menariknya, bukannya sibuk membenahi indikator makro, pihak Istana justru meluncurkan jargon baru: melabeli para kritikus kebijakan ekonomi sebagai “Londo Ireng” (zwarte Hollanders) alias pengkhianat bangsa. Ulasan lengkap dari koran Belanda yang bikin heboh jagat siber ini bisa ditengok langsung di portal De Volkskrant.

INDONESIA INSIGHTS

Menyalahkan istilah sosiolinguistik era tentara sewaan Ghana abad ke-19 untuk menjawab pertanyaan krusial soal defisit APBN adalah bentuk akrobat komunikasi politik paling aduhai. Tabel Audit Strategis GetNews membedah benturan antara romantisme retorika kekuasaan dan kenyataan dompet rakyat.

Variabel ‘Otw Bangkrut’Sorotan De VolkskrantRealitas Nyata Lapangan
Rupiah & Gubernur BIKurs melorot hampir Rp30.000/USD, Perry Warjiyo lempar handuk alias mundur. Harga empon-empon sampai barang elektronik makin mahal. Detailnya di De Volkskrant Economie.
Proyek & Bunga UtangDefisit terancam jebol 3% akibat proyek IKN & makan gratis bernilai ratusan triliun. Memicu aksi kabur modal (capital flight) pengusaha ke Singapura, dikutip via The Wall Street Journal.

​Logika “ekonomi kita tumbuh pesat 5,6 persen” seketika berubah jadi pertunjukan komedi berdiri (stand-up comedy) yang amat mahal ketika dihadapkan pada kenyataan di lapangan. Bagaimana tidak, di saat ekspor nikel dan sawit lagi lesu-lesunya, pemerintah tetap keukeuh tancap gas membiayai proyek-proyek raksasa—mulai dari pembangunan IKN sampai bagi-bagi piring makan gratis untuk 83 juta anak sekolah dan ibu hamil. Walhasil, anggaran kesehatan dan pendidikan yang mestinya buat mencerdaskan kehidupan bangsa terpaksa “didietkan” secara sukarela. Mengharapkan rupiah mendadak perkasa cuma gara-gara kita rajin pidato berapi-api itu sama absurdnya dengan berharap timnas lolos Piala Dunia tanpa memperhitungkan variabel lobi telepon ke bos FIFA.

​Sisi humor gelap dari istilah “Londo Ireng” ini makin berasa gurih renyah kalau kita sandingkan dengan tingkah polah pejabat lokal sepanjang minggu. Di saat Istana sibuk menuding para pengkritik sebagai pengkhianat, KPK justru asyik menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini dan menyegel kantor Dinas PU. Belum lagi drama pesta komisi cashback vendor RSUD NTB Mataram senilai Rp677 juta yang baunya sampai mana-mana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *