AMBARA

Ironi di Menara Pengawas: Ketua Ombudsman Terjerat ‘Lumpur’ Nikel Sultra

PANGGUNG HUKUM Indonesia kembali mempertontonkan sketsa komedi hitam yang sangat satir. Pada Kamis (16/4/2026), Kejaksaan Agung resmi menetapkan Ketua Ombudsman RI, Hery Susanto, sebagai tersangka dalam kasus megakorupsi tata kelola tambang nikel di Sulawesi Tenggara.

​Sungguh sebuah plot yang “indah”: sosok yang memimpin lembaga pengawas pelayanan publik—garda terdepan yang seharusnya mencium aroma busuk maladministrasi—justru diduga ikut “makan siang” di meja yang sama dengan para mafia tambang. Jika penjaga gerbangnya saja ikut menggali lubang, lantas rakyat harus melapor kepada siapa? Kepada rumput yang bergoyang?

Variabel PerkaraAnalisis Jahil AMBARAStatus Integritas
Kasus Nikel SultraTambang yang ‘manis’ bikin pengawas lupa diri. Maladministrasi jadi bisnis pribadi.SYSTEMIC FRAUD
Profil Eks Aktivis LSMDulu vokal bela rakyat, sekarang ‘vokal’ bela kepentingan tambang (mungkin).MORAL DECAY
Dampak ke OmbudsmanLembaga pengawas jadi pesakitan. Wibawa luntur, kepercayaan rakyat melipir.TRUST DEFICIT

Sumber: Kejagung RI, Kompas Nasional & Unit Analisis ‘Pagar Makan Tanaman’ AMBARA 2026.

Sepak Terjang yang Berujung Terjang

​Hery Susanto punya rekam jejak mentereng sebagai aktivis LSM. Biasanya, orang dengan latar belakang ini sangat alergi dengan penyalahgunaan wewenang. Tapi, nikel Sulawesi Tenggara tampaknya punya daya pikat yang lebih kuat daripada idealisme masa lalu. Kejagung menduga ada “tata kelola” yang sengaja dibengkokkan demi pundi-pundi yang tak berhak.

​Bayangkan betapa jahilnya takdir: Ombudsman yang biasanya hobi ngomel-ngomel ke kementerian soal pelayanan yang lelet, sekarang ketuanya justru harus “melayani” pemeriksaan penyidik Kejagung dengan status tersangka. Sebuah ironi yang bahkan penulis naskah drama paling kreatif pun tak sanggup membayangkan.

Kiamat Pengawasan di Indonesia?

​Setelah oknum BAIS TNI main siram air keras, kini pengawas pelayanan publik kita masuk penjara. Ini bukan lagi soal “oknum”, tapi soal kegagalan seleksi moral di jabatan-jabatan strategis. Hery Susanto adalah simbol bahwa virus korupsi tidak pandang bulu; ia bisa menyerang siapa saja, termasuk mereka yang digaji untuk membasmi virus tersebut.

​Presiden Prabowo tempo hari bicara panjang lebar soal sistem suksesi dan impeachment yang damai. Mungkin beliau perlu menambah satu agenda darurat: “Impeachment Masal” bagi para pejabat yang moralnya lebih rendah dari harga nikel mentah.

Kesimpulan: Siapa Mengawasi Sang Pengawas?

​Penetapan Hery Susanto sebagai tersangka adalah lonceng kematian bagi kredibilitas Ombudsman periode ini. Sulit membayangkan rakyat akan melapor soal maladministrasi desa ke lembaga yang ketuanya saja diduga jadi mafia tambang.

​Selamat berproses hukum, Pak Hery. Semoga di ruang tahanan nanti, Bapak bisa melakukan “audit pelayanan publik” secara langsung terhadap kinerja sipir penjara. Itulah dedikasi pengawasan yang sesungguhnya, bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *