WASHINGTON D.C. — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu diskursus publik melalui platform Truth Social. Dalam unggahan terbarunya, Senin (20/4/2026) waktu setempat, Trump melontarkan kritik tajam terhadap saluran berita CNN dan sejumlah media besar lainnya atas cara mereka melaporkan serangan udara AS terhadap situs-situs nuklir Iran yang terjadi tahun lalu.
Presiden Trump menuduh media-media tersebut menyajikan narasi yang tidak akurat dan meremehkan efektivitas operasi militer yang diluncurkan pemerintahannya. Kritik ini muncul di tengah situasi diplomatik yang masih rentan di kawasan Timur Tengah pasca-serangan strategis tersebut.
Kritik atas Narasi Media
Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa liputan media cenderung bias dan tidak memberikan kredit yang cukup atas keberhasilan operasi “pemandulan” program nuklir Teheran. Ia mengeklaim bahwa pemberitaan media arus utama justru menciptakan ketidakpastian yang tidak perlu di pasar energi global dan pasar domestik AS.
Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada tahun 2025 lalu memang menjadi salah satu peristiwa geopolitik paling signifikan dalam satu dekade terakhir. Operasi tersebut memicu perdebatan panjang di Dewan Keamanan PBB serta berdampak langsung pada fluktuasi harga minyak mentah dunia—termasuk koreksi tajam 9 persen yang terjadi baru-baru ini menyusul pembukaan kembali Selat Hormuz.
Respons Publik dan Dampak Diplomatik
Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi tambahan mengenai unggahan media sosial sang Presiden. Namun, para analis politik menilai bahwa langkah Trump ini merupakan upaya untuk memperkuat basis dukungan domestiknya terkait kebijakan luar negeri yang agresif.
Di sisi lain, perwakilan CNN dan organisasi media lainnya belum merespons secara langsung tuduhan tersebut. Perseteruan antara Trump dan media arus utama diprediksi akan terus memanas, terutama saat AS sedang berupaya merundingkan kesepakatan baru dengan Teheran untuk menstabilkan kawasan Teluk.




