MATARAM — Perekonomian Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Triwulan I-2026 mencatatkan angka yang akan membuat banyak provinsi lain iri: pertumbuhan tahunan sebesar 13,64% (y-on-y). Namun, di balik angka spektakuler ini, terdapat dinamika yang kompleks. Kepala BPS NTB, Dr. Wahyudin, mengungkapkan bahwa mesin pertumbuhan ini digerakkan hampir sepenuhnya oleh aktivitas hilirisasi mineral. Lapangan usaha Industri Pengolahan melonjak drastis 60,25%, sebuah lompatan yang tidak mungkin terjadi tanpa operasional penuh smelter yang pada periode tahun sebelumnya masih dalam tahap konstruksi.
Namun, jika kita melihat lebih dekat secara kuartalan (q-to-q), ekonomi NTB justru mengalami kontraksi sebesar 1,30%. Kontraksi terdalam terjadi justru pada sektor Industri Pengolahan yang anjlok 31,02% dibandingkan kuartal sebelumnya. Ini menunjukkan adanya fluktuasi output yang tajam atau kemungkinan penyesuaian operasional pasca-produksi puncak. Ekspor pun terkontraksi 25,95% (q-to-q), menandakan bahwa meskipun tahunan naik, NTB masih sangat rentan terhadap ritme pengiriman logistik global yang mungkin terganggu oleh ketidakpastian di Selat Hormuz.
Ketenagakerjaan: Sektor Pertanian dan Efek MBG
Kabar baik datang dari pasar tenaga kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menyusut ke angka 2,99%. Menariknya, BPS mencatat bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan dampak ekonomi riil pada lapangan usaha pertanian dan industri pengolahan. Dengan 32,86% penduduk masih bergantung pada sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, peningkatan luas panen padi hingga dua kali lipat menjadi penyangga krusial bagi daya beli masyarakat pedesaan di tengah defisit fiskal nasional yang membengkak.
Gender dan Demografi: Menuju ‘Ageing Population’
NTB juga mencatat kemajuan sosial yang signifikan dengan penurunan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) menjadi 0,515. Penurunan angka pernikahan anak ke 11,31% adalah kemenangan moral dan sosial yang akan berdampak pada kualitas SDM jangka panjang. Namun, hasil SUPAS 2025 memberikan peringatan demografis: NTB hampir memasuki fase ageing population dengan 9,72% penduduk adalah lansia. Migrasi neto yang positif di hampir seluruh kabupaten (kecuali Kota Mataram yang negatif -3,98) menunjukkan bahwa NTB kini menjadi magnet bagi pencari kerja, kecuali pusat kotanya yang mungkin mulai mengalami saturasi atau pergeseran pemukiman ke daerah penyangga.
GetNews Strategic Audit: Rilis BRS BPS NTB Mei 2026
Analisis terhadap postur ekonomi dan sosial NTB periode terbaru:
Vonis Redaksi: Menagih Manfaat Hilirisasi
Ekonomi NTB Triwulan I-2026 menunjukkan bahwa strategi hilirisasi pertambangan adalah pedang bermata dua. Secara tahunan, ia menciptakan pertumbuhan raksasa, namun secara kuartalan, ia menciptakan volatilitas yang nyata. GetNews memandang bahwa penurunan IKG dan TPT adalah modal sosial yang jauh lebih berharga daripada sekadar angka PDRB. Tantangan bagi Gubernur Lalu Muhamad Iqbal kini adalah memastikan bahwa “berkah smelter” ini tidak hanya berhenti di angka statistik, tapi terus mengalir ke penguatan sektor formal dan perlindungan bagi populasi lansia yang kian bertambah.




