MATARAM — Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatatkan anomali pertumbuhan ekonomi yang luar biasa pada awal kuartal II-2026. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB melaporkan nilai ekspor Bumi Gora pada Maret 2026 melonjak fantastis hingga 9.162,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mencapai angka US$ 567,57 juta.
Kepala BPS NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, menegaskan bahwa lonjakan “tak masuk akal” ini merupakan buah dari progresivitas sektor pertambangan dan keberhasilan hilirisasi industri pengolahan tembaga.
Dominasi Tambang dan Gairah Wisata Ramadan
Secara kumulatif (Januari–Maret 2026), total ekspor NTB menembus US$ 707,92 juta. Wahyudin menilai ini adalah indikator kuat bahwa struktur ekonomi NTB mulai bergeser ke arah industri bernilai tambah tinggi.
Sektor pariwisata tidak ketinggalan menunjukkan taringnya. Momentum Ramadan dan Idulfitri terbukti menjadi katalisator mobilitas:
- Wisman: 6.428 orang (naik 24,72% mtm).
- Wisnus: 1,39 juta orang (tumbuh 34,64% mtm).
- Transportasi: Penumpang udara domestik meroket 44,58% dan angkutan laut naik 39,84%.
Stabilitas di Tengah Deflasi Pangan
Meskipun aktivitas ekonomi memanas, inflasi tahunan (yoy) NTB pada April 2026 tetap terjaga di level 3,27 persen. Secara bulanan, NTB bahkan mengalami deflasi 0,11 persen berkat melimpahnya pasokan cabai rawit, daging ayam, dan sayuran pasca-panen raya. Di sisi lain, Nilai Tukar Petani (NTP) bertengger di angka 128,00, menandakan daya beli produsen pangan lokal masih berada dalam zona sangat sehat (di atas 100).




