KABAR MEMBANGGAKAN—atau mungkin mendebarkan—kembali datang dari panggung finansial global. Mata uang kebanggaan kita, rupiah, baru saja menembus posisi elite. Berdasarkan laporan terbaru dari Forbes Advisor 2026, rupiah resmi dinobatkan sebagai mata uang terlemah peringkat ke-5 di dunia.
Sebuah pencapaian luar biasa yang berhasil menempatkan kita sejajar dengan negara-negara yang nasib ekonominya sedang bapuk akibat perang atau hiperinflasi akut. Jika selama ini kita sering mengeluh tim nasional sepak bola susah masuk peringkat 100 besar dunia, setidaknya dalam urusan kelemahan kurs, mata uang kita sukses melesat ke jajaran papan atas global.
Bukan Lemah, Cuma Terlalu Banyak Nol-nya
Mari kita lihat dari sudut pandang yang positif (dan sedikit menghibur diri). Pemerintah dan pihak bank sentral biasanya punya argumen andalan untuk fenomena ini: rupiah itu tidak lemah, nilai intrinsiknya saja yang nominalnya terlalu panjang karena kita belum melakukan redenominasi alias potong nol. Jadi, kalau dolar AS itu ibarat mobil sport yang ringkas, rupiah kita itu ibarat bus gandeng—panjang, berat, dan kalau mau parkir di pasar global butuh ruang yang luas.
Namun, di tengah laporan Forbes yang bikin jantungan ini, ingatan publik tentu langsung melayang pada kutipan epik yang belakangan viral dari istana: “Rakyat di desa enggak pakai dollar kok.” Kalimat sakti ini seolah menjadi pelipur lara nasional. Betul juga, ya. Mengapa kita harus pusing memikirkan peringkat ke-5 dunia versi Forbes, kalau di warung Bu Sri di pelosok kampung kita masih bisa beli kopi sachet pakai lembaran seribuan yang lecek? Masalahnya baru muncul saat harga kopi sachet itu naik karena biji kopinya diproses pakai mesin impor.
Penutup: Selamat Atas Peringkatnya!
Masuk dalam daftar lima besar dunia versi Forbes biasanya adalah impian semua pengusaha dan korporasi. Sayangnya, kali ini yang masuk ke sana adalah nilai tukar mata uang kita untuk kategori yang salah.
Masyarakat tentu berharap posisi ke-5 ini adalah titik nadir tertinggi dan tidak ada ambisi tersembunyi dari para pemangku kebijakan untuk mengejar peringkat pertama, menggeser Rial Iran atau Bolivar Venezuela. Sudah saatnya otoritas moneter bekerja lebih keras agar mata uang kita bisa segera “turun kasta” dari daftar memalukan tersebut. Sebab, jika rupiah terus-menerus nyaman di top 5, lelucon kurs kemerdekaan Rp17.845 yang kemarin ramai di DPR bisa-bisa berubah jadi kenyataan pahit sebelum Agustus tiba.




