AMBARA

Lelucon Rp17.845: Saat Kurs Dolar Dianggap Mau Ikut Upacara Kemerdekaan

RUPIAH KITA tampaknya sedang hobi menguji adrenalin publik. Setelah resmi terperosok ke kisaran Rp17.600 per dolar AS pada pembukaan pekan ini, ruang sidang Komisi XI DPR langsung menghangat. Adalah Harris Turino, anggota legislatif dari komisi keuangan tersebut, yang melontarkan sebuah sindiran getir bin kreatif yang tengah beredar di tengah masyarakat.

​Kata Harris, kalau tren pelemahan ini dibiarkan terus merangkak sampai menyentuh level psikologis Rp17.845 per dolar AS, publik bakal menganggapnya bukan lagi sebagai krisis moneter, melainkan sebagai bentuk nasionalisme. Angka tersebut diramal bakal diolok-olok sebagai simbol tanggal kemerdekaan Indonesia: 17 Agustus 1945. Sebuah guyonan gelap yang tentu saja membuat dahi para pejabat bank sentral makin berkerut.

Stabil Menurut Data, Babak Belur Menurut Dompet

​Harris Turino secara terbuka mempertanyakan klaim Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, yang dalam berbagai kesempatan hobi menenangkan pasar dengan narasi bahwa rupiah kita ini “relatif stabil” jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya.

​Memang benar, di atas kertas dan grafik presentasi BI, posisi kita mungkin terlihat lebih gagah daripada mata uang negara lain yang terjun bebas tanpa parasut. Namun, Harris mengingatkan sebuah realitas yang tak terbantahkan: masyarakat di akar rumput tidak belanja pakai persentase perbandingan antar-negara. Masyarakat merasakannya langsung lewat dompet yang makin tipis karena harga barang yang terus merangkak naik, meskipun BI mengeklaim sudah melakukan berbagai langkah intervensi pasar yang menghabiskan cadangan devisa.

​Bagi DPR, BI tidak boleh bersembunyi di balik tameng klaim kosmetik. Menjaga stabilitas nilai tukar adalah tugas konstitusional yang mutlak, bukan sekadar urusan membandingkan nasib dengan tetangga yang sama-sama sedang susah.

Audit Strategis: Krisis Komunikasi dan Realitas Moneter BI

Aspek StrategisKondisi LapanganAnalisis GetNews
Gaya Komunikasi BIKlaim “Rupiah relatif stabil dibanding negara lain” oleh Perry Warjiyo.Terjadi gap komunikasi; narasi makroekonomi bank sentral gagal menenangkan psikologi pasar domestik.
Kritik ParlemenSentilan Harris Turino mengenai potensi ejekan kurs kemerdekaan Rp17.845.Indikator tingkat frustrasi politik yang tinggi terhadap efektivitas bauran kebijakan moneter saat ini.
Langkah IntervensiBI mengklaim sudah melakukan berbagai langkah intervensi pasar.Hasil di lapangan belum optimal karena kuatnya tekanan eksternal; beban pertahanan cadangan devisa meningkat.
Sumber: Audit Strategis Indonesia Insights – GetNews Premium Format

Penutup: Merdeka dari Dolar?

​Jika candaan Rp17.845 benar-benar terwujud, kita mungkin perlu bersiap-siap mengadakan lomba balap karung khusus untuk para trader valas. Menjaga rupiah agar tidak menjadi bahan lelucon sejarah adalah pekerjaan rumah terbesar Bank Indonesia saat ini.

​Masyarakat tentu berharap BI segera menemukan ramuan moneter yang lebih manjur daripada sekadar mantra “kita lebih baik dari negara lain.” Sebab, jika rupiah terus-menerus kalah perkasa di hadapan greenback, kekhawatiran kita bukan lagi soal simbol tanggal kemerdekaan, melainkan kemerdekaan daya beli rakyat yang perlahan-lahan mulai terjajah oleh inflasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *