PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO baru saja mampir ke Nganjuk, Jawa Timur, untuk meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah pada Sabtu (16/05/2026). Di sana, alih-alih cuma gunting pita dan dadah-dadah ke kamera, Pak Presiden kembali memberikan wejangan andalannya: Indonesia itu bisa kuat cuma kalau kita bersatu dan nggak hobi ribut sendiri.
Prabowo mengingatkan pentingnya menghormati ajaran para pendiri bangsa serta tetap setia pada mazhab politik luar negeri yang “bebas aktif”. Artinya? Kita mau berteman dengan siapa saja, dari blok barat sampai blok timur, tanpa perlu ikut-ikutan jadi antek atau tim hura-hura negara lain.
Bebas Aktif: Selesaikan Sengketa Sambil Ngopi
Di depan warga Desa Nglundo, Sukomoro, Kepala Negara menegaskan bahwa Indonesia memilih jadi mitra yang baik buat semua tetangga. Pemerintah bahkan mengklaim sedang rajin-rajinnya membereskan berbagai persoalan bilateral menahun yang belum kelar-kelar. Prinsipnya jelas: perdamaian itu seksi, ketegangan itu bikin pusing.
Tapi yang paling bikin tenang tentu saja klaim berikutnya. Di tengah dunia luar yang lagi kacau balau karena ketidakpastian global, Prabowo menjamin kondisi ketahanan pangan dan energi Indonesia masih aman terkendali. Kekayaan sumber daya alam kita disebut-sebut jadi tameng utama agar perut rakyat tidak ikut-ikutan bergejolak seperti geopolitik dunia.
Audit Strategis: Retorika Persatuan dan Ketahanan Nasional
Penutup: Kenyang adalah Kunci
Retorika politik bebas aktif dan persatuan memang terdengar indah di telinga. Namun, jaminan ketahanan pangan dari Presiden adalah apa yang benar-benar dinanti masyarakat bawah. Lagipula, bagaimana rakyat bisa diajak bersatu dan mikirin politik luar negeri kalau urusan isi piring saja masih sering bikin dompet menjerit?
Semoga saja klaim aman ini bertahan lama, seaman posisi Indonesia yang hobi berteman dengan semua negara tanpa pilih-pilih kawan.




